Air Mata Ria

Ria, tokoh utama dalam cerpen yang sarat dengan pesan moral dan hikmah kehidupan ini, keluar sebagai Juara II pada Sayembara Penulisan Cerpen Mahasiswa se-UPI Bandung.

MIA ZULTRIANTI SARI, SEORANG MAHASISWI PENDIDIKAN DASAR SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS INDONESIA, ANGKATAN 2013.

DI PENGHUJUNG malam ketika diriku terbangun,  disudut kamar dengan cahaya yang redup, mendapati Ria yang sedang duduk diatas sejedah lemas bersandar ke dinding, warna dinding yang pink sedikit memberikan cahaya padaraut wajah Ria yang ternyata sedang menangis dengan sendu.  Ditangan kanan ada al quran yang sudah tertutup masih dipegang erat olehnya, sambil sesekali diarahkan kedadanya seraya berkata, ya Allah aku sedang sedih. Sontak kaget melihat Ria yang tidak biasanya seperti itu, ingin rasanya langsung bertanya apa yang terjadi dengannya. Tapi pada akhirnya, aku melaluinya hanya dengan tatapan penuh empati, sejenak memandang lalu kuambil lagi tatapan itu, kemudian kakiku melangkah menuju kamar mandi untuk menyusul Ria yang nampaknya sudah solat tahajud lebih dulu.

Beberapa rakaat telah tertunaikan, munajat doa penuh harap terlempar menuju langit, berharap lemparan doa itu kembali sampai kebumi menjadi sebuah perwujudan dari sebuah asa. Tampak disampingku, Ria membuka kembali al quran nya, bertilawah dengan suaranya yang sangat halus merdu menentramkan hati, makhorijul huruf yang fasih menambah khidmat suasana disepertiga malam terakhir itu. Kami tilawah berjamaah, walau ayat yang kami bacakan berbeda, tapi kami tetap yakin, apapun itu jika itu sebuah kebaikan yang dilakukan berjamaah, akan membuahkan keberkahan yang lebih, in sha Allah.

Tepat pukul jam 4 pagi, lepas 1 jam yang lalu saya terbangun. Berarti Ria sudah lebih dahulu bangun,. Subuh masih 35 menit lagi, tak ada lagi yang kami lakukan. Tilawah 30 menit yang biasa kami lakukan sudah selesai.

Akupun membuka obrolan, “Ria…kamu kenapa?”. Ria menjawab “Tak apa” jawaban yang simple diiringi dengan senyum yang simpul.

Padahal nampak jelas raut muka kesedihan yang mendalam diraut wajahnya setelah lampu kamar aku nyalakan tadi sesaat sebelum tilawah.

Ria memang temanku yang penyabar, tidak sering mengumbar kesedihan ataupun kebahagiaan. Mungkin Ria memegang prinsip “berkata yang baik, atau diam”. Aku menghargai itu, karena persahabat sejatinya adalah saling menerima kekurangan, bukan hanya mampu menerima kelebihannya. Begitulah…

Adzan berkumnadang saling bersahut diluar kamar kost kami, lalu kami melakukan solat qobla subuh dilanjutkan dengan solat berjamaah. Seperti biasa, aku lebih sering menjadi imam, dan Ria yang mengumandangkan iqomah dengan suara yang lirih. Salam mengakhiri solat, dilanjutkan dzikir dan kita bermuhasabah.

Ada yang berbeda dengan muhasabah pada pagi itu, Ria merangkulku dengan pelukan yang sangat kuat, tangisnya pecah di bahu sebelah kiriku. Tangisannya kuat melemahkan suaranya, suaranya terpotong. Nampak kata-katanya diterjalkan oleh puing-puing nestapa yang dialaminya. Diriku masih bingung, apa yang terjadi.

Aku berkata “istigfar Ria, menangislah jika memang tangisan ini bisa membuat hatimu tenang, terus berdzikir, agar kesedihanmu tidak melepaskan ingatanmu dari keikhlasan hati akan takdir Allah”. “iya “ Ria menghela nafas panjang dan melepas pelukannya, nampaknya dia ingin menceritakan sesuatu kepadaku tapi masih terhimpit oleh sesak rasa di dada. “minumlah!, bismilllah!, in sha Allah akan lebih tenang ”Aku memberikan segelas air.

Ria menceritakan tentang kejadian beberapa bulan yang lalu, ada seorang ikhwan yang berniat taarufan dengan Ria. Mereka telah berteman sejak 2009, pada awal munculnya facebook memang orang yang tak kenalpun di add. Pada awal tahun 2015 ini, ikhwan itu ada kirim pesan ke inbox Ria di Fb. Perasaan Ria kalut, antara senang dan bingung, saat ada seorag ikhwan yang tidak dikenalinya mengirimkan pesan. Padahal sebelumnya Ikhwan itu tak pernah menyapa, hanya kadang me Like statusnya Ria yang diposting di FB. Ria juga tak pernah menyapa ikhwan itu, hanya membalas dengan Like status yang diposting oleh ikhwan itu. Disitulah mengkin terjadi “saling memperhatikan”, disinilah awal mula duka itu berasal.

Ikhwan itu membuka pertanyaan yang ringan tentang aktivitas dan rutinitas Ria, dan ternyata ikhwan itu adalah teman dekat sahabat Ria saat SMA. Ria mulai mencari informasi sebanyak-banyaknya baik dengan kepo-in FB atau nanya langsung ke teman SMA nya. Untuk mencegah fitnah, Ria meminta Yeni teman SMA nya untuk menjadi perantara dalam komunikasi dengan Ikhwan itu. Ternyata Ria memang mengagumi ikhwan itu, dia adalah sosok yang imam yang didambakan Ria selama ini, soleh, pintar, pekerja keras dan sayang orangtua, walaupun rupanya pas-pasan rasa kagum Ria tidak luntur.

Yeni menceritakan niat baik ikhwan itu pada Ria, ikhwan yang saat ini sedang kuliah di arab Saudi ingin bertemu dengannya nanti bulan Juni / awal Ramadhan saat kuliahnya libur. Sudah banyak informasi tenatang Ria yang diberikan Yeni kepada ikhwan itu, dan semuanya ditanggapi postif. Bahkan ikhwan itu sudah berniat untuk menikahi Ria setelahRamdahan, asal Ria bersedia ditinggal dulu selama 1 tahun untuk menyelesaikan kuliah. Senang bukan kepalang, puji syukur terucap saat Ria mendengar itu dari sahabatnya Yeni, seolah penantian jodoh selama ini akan berakhir dipertengahan tahun ini. Ria beranggapan, cinta memang tak harus lewat mata. Kekuatan cinta, jalan cinta, jalan jodoh dari Allah memang tak diduga asalanya, dari dunia mayasekalipun.

Pada saat itu masih bulan Februari, Ria bersedia menunggu sampai Juni tiba. Komunikasi dihentikan, karena Ria yakin ikhwan itu sudah berkomitmen pada dirinya. Satu bulan berlalu, ini bulan Maret. Yeni memberikan kabar yang menghujam hati, tersayat Ria, tertusuk , apalah itu namanya. Ternyata ikhwan itu akan dijodohkan oleh Ibunya. Sebagai anak yang soleh, ikhwan itu tak kuasa menolak keinginan ibunya yang sudah tua pun janda. Padahal rasa kagum Ria yang sudah hampir menyublim menjadi rasa sayang sudah tumbuh dalam dalam benak dan hatinya.

Paham benar tentang perasaan Ria saat itu, kenapa bisa Ria merasa terluka amat dalam. Diakhir cerita, Ria tampak sedikit legowo dengan episode kehidupannya itu, dengan keimanan yang ada dalam diri dan juga pertolongan Allah, Ria sadar bahwa takdir manuia sudah disuratkan di lauhil mahfudz. Tugas manusia telah ditegaskan beberapa kali dalam al-quran, ibadah ikhlas dan sabar.

Tapi ingatlah, ketika rasa tiba namun sukma tak pernah berjabat, diantara diam selalu ada harap, jabatlah dzat sang pengabul harap. Sukma tak pernah bisa berbicara,hanya hatilah sahabat sukma, hanya jiwa yang mengerti rindu. Rindu sapaan yang tak seharusnya ada sapaan, rindu perhatian yang tak seharunya diperhatikan, menantikan rayuan angin membelai dalam sunyi senja dipenghujung rindu. Tak ada yang salah dengan rasa, meletup meledak membuncah tumpah dalam tangisan, mungkin ini sudah lebih dari cukup. Rindu pendamping kehidupan.

Terbatas rasa dalam pagar, pagar penguat kehidupan. Pagar dunia yang kokoh yang tak boleh dilangkahi segenap manusia seisi bumi.Ya.. Jalan hidup Jalan Kehidupan Jalan Dari Tuhan, sabar dalam ketaatan adalah bentuk wujud terbaik ikhtiar. Nyatanya ujian kesedihan lebih mudah mendekatkan makhluk kepada Sang Khalik, dibanding ujian kesenangan yang lebih sering membuat makhluk lalai dan lupa syukur.

TAMAT

Berbagi Informasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *