Himmpas Unpad, Gigih Hadapi Tantangan

CFSVNGUVEAA4mW9-300x161BANDUNG, (17/5) – Sore sudah menjelang di Kota Bandung. Aktivitas yang padat sore itu, kemacetan dan juga berbagai lalu-lalang kendaraan menjadi hal yang wajar di Kota Bandung. Meskipun hawa sejuk Kota Bandung menyerebak namun panas terik matahari tidak dapat dihindari. Sore itu, di Pendopo Kampus Universitas Pandjajaran, Kampus Dipatiukur, menjadi area perbincangan seru antara Puskornas Forsi Himmpas, Himmpas Unpad, dan Himmpas UPI Bandung.

            Lelaki tinggi, berwajah sunda yang hangat menyambut kami, perwakilan dari Puskornas. Dia Eso Solihin, Kang Eso, begitu biasanya anak Sunda memanggilnya. Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Muslim Pascasarjana Universitas Padjadjaran (Himmpas Unpad), yang baru saja menyelesaikan studi masternya beberapa bulan lalu. Eso masih gigih meski tak nampak seorang ikhwan pun dari Himmpas Unpad yang membersamaianya, hanya ada seorangakhwat di sudut Majid Al Jihad yang tak jauh dari Pendopo Kampus Unpad, tempat kami bertemu. Raut wajah Eso menujukkan optimisme yang tinggi, meskipun pada kenyataannya, sungguh menggugah. Bagaimana tidak. Cerita Eso kepada kami perihal Himmpas Unpad menyadarkan kami bahwa selama ini tantangan yang dihadapi rekan-rekan Unpad jauh lebih besar ketimbang Himmpas di tempat kami berada. Kampus yang terpisah jauh, respon yang minim, bahkan untuk mencapai Kampus Dipatiukur, tempat kami bertemu, Eso dan rekan-rekannya harus menempuh satu jam perjalanan menggunakan kendaraan bermotor. Perjuangan yang tidak mudah dan usaha yang harusnya diapresiasi lebih.

            Eso mengawali ceritanya sore itu dengan menggambarkan kondisi keadaan kampus Unpad yang terpisah di lima lokasi yang berbeda dan saling berjauhan. “Nah, Unpad the kampusna pisah dimana-mana, Jatinangor paling jauh, dekat STPDN sana, dan ini, Kampus Dipatukur ada di Kota Bandung tapi justru disini sedikit kader atau hampir tidak ada kader Himmpasna”, cerita Eso dengan nada khas ikhwan Sunda. Bukan hanya tentang kampus yang jauh atau kampus yang terpisah, namun masalah minimnya kader dan rekrutmen yang tidak berjalan dengan baik menjadi kendala bagi Himmpas Unpad. Bahkan sampai sekarang, Himmpas Unpad masih diketuai oleh Kang Eso, meskipun statusnya sudah bukan lagi mahasiswa Unpad.

            Meskipun demikian kondisinya, Abu Rahmat Ibrahim, Ketua Puskornas Forsi Himmpas Indonesia, optimis bahwa Himmpas Unpad mampu menyelesaikan masalahnya meskipun secara bertahap. “Insya Allah kami siap membantu Himmpas Unpad”, ujar Abu Rahmat. Hal senada pun diungkapkan Yoga Pratama, Ketua Umum Himmpas UPI. “Anak UPI siap bantu Unpad, dan siap berkolaborasi,Insya Allah koordinasi Himmpas Bandung Raya akan diaktifkan lagi bersama dengan Kamil ITB”, ucap Yoga.

            Banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh Himmpas Unpad, mulai dari perihal rekrutmen dan regenerasi Himmpas, sampai pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM) Himmpas dan aktivitas kegiatan yang bersinergi dengan lembaga lain. Puskornas, sore itu, menawarkan beberapa solusi atas masalah yang dihadapi Himmpas Unpad, diantaranya mendata ulang Mahasiswa Muslim Pascasarjana, dan fokus pengelolaan di satu kampus saja, misal fokus di Kampus Unpad Dipatiukur. “Cerita Kang Eso, tentang kondisi Himmpas Unpad, seharusnya menjadi semangat bagi kita untuk tetap melakukan kontribusi nyata meskipun dengan segala keterbatasan yang ada”, ungkap Abu Rahmat mengakhiri pembicaraan sore itu.

Tim Humas Media Puskornas Forsi Himmpas

Berbagi Informasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *