Jembatan Cinta untuk Mia

Sebuah cerpen kehidupan, mengisahkan tokoh Mia sebagai sentral tokoh utama yang nyata dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dikemas dan dinarasikan secara menarik. Berisikan pesan moral yang dalam.

HUSWATUN HASANAH, MAHASISWA PENDIDIKAN MATEMATIKA SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA, ANGKATAN 2014. CERPEN INI KELUAR SEBAGAI JUARA I DALAM SAYEMBARA PENULISAN CERPEN MAHASISWA SE-UPI BANDUNG.

“Oy, ngapain lo?” Karim berteriak memanggil Reno yang menyandarkan tubuhnya pada tong sampah samping kelas 3A.

“Ssssttt.. brisik. Jangan ganggu gua!” bisik Reno.

“Lagi ngapain sih?” Bukannya menjauh Karim malah bergerak mendekat.

Reno menarik tubuh karim, merundukanya, “Ssstt.. gua bilang kan jangan berisik. Liat noh, bidadari gua lagi ditembak cowok.”

“Orang aneh.. kalo lo emang suka Mia. Kenapa malah sumringah dia ditembak cowo?” Karim spontan bergabung bersama Reno, memperhatikan dua orang yang sedang berdiri di bawah pohon sukun.

Di sana, Bayu setengah canggung mengutarakan isi hatinya pada Mia.

“Mia, mau kan jadi pacar Bayu?”

Singkat saja, Mia menjawab pertanyaan dengan pertanyaan,”Kenapa Bayu suka Mia?”

Berpikir sejenak, Bayu menjawab, “Kamu itu baik Mia. Ramah. Pinter. Belum lagi Mia juga manis.”

“Itu alasannya.” Tidak ada ekspresi tersanjung dalam raut wajah Mia. “Baik, ramah, pinter, apalagi manis itu kan penilaian relatif. Kalo suatu hari orang-orang gak berpikir Mia itu baik, Bayu mau berenti suka sama Mia? Kalo Mia gak dianggap ramah lagi Bayu ninggalin Mia? Kalo ranking Mia turun, ato mendadak jadi jelek, Bayu bakal mutusin Mia?”

Bayu diam. Tidak tahu harus mulai menjawab darimana. Atau, dia malah tidak tahu harus menjawab apa. Sementara Reno tertawa terpingkal di tempat persembunyiannya.

“Bayu tahu, apa itu alasan bagi sebuah hubungan?” Mia meneruskan serangannya.

Bayu menjawab dengan gelengan kepala. Mulutnya masih berat untuk menghamburkan kata.

“Alasan Bayu suka sama Mia itu adalah jembatan yang menghubungkan kita berdua. Dan Bayu tahu apa jadinya jika jembatan itu hilang?” Mia mulai beranalogi.

“Nggaa” setidaknya, kini lidah Bayu mulai sanggup berucap meski satu kata dan begitu pelan.

Mia meneruskan kata-katanya,”Bohong. Bayu pasti tahu. Apapun alasan bayu suka sama Mia, hubungan kita akan bergantung pada alasan itu. Hilang alasan. Putus jembatan. Putus juga hubungan kita. Mia gak mau jalin hubungan dengan cara seperti itu.”

Dan Mia pun pergi segera setelah menyelesaikan kata-katanya. Bayu hanya diam. Ini pengalaman pertamanya bertemu wanita semacam Mia.

Sementara dibalik tong sampah, Reno tak berhenti tertawa terpingkal. Dan Karim hanya cemas menyaksikan reaksi temanya yang dia anggap tidak wajar.

“Ren, lo waras kan? Inget bentar lagi puasa. Terus lebaran. Orang-orang pada ngeramein masjid, eh lo malah ngeramein Rumah sakit jiwa.”

Reno menghentikan tawanya, dengan sedikan letupan senyum kecil dia menjawab santai, “itulah bidadari gua, bro. Bulan ini dah tiga cowo yang nembak dia. Dan semuanya gagal.”

“Iyalah.. dikasih pertanyaan kayak begitu, siapa yang bisa jawab. Apapun jawabanya pasti salah. Dia mang gak niat pacaran kali. ”

“Gua tahu jawabanya” Reno berkata penuh percaya diri. “Besok lo tunggu, dan saksikan penaklukan gua dari balik tong sampah ini.”

Esok harinya.

“Mia, mau ngga jadi pacar Reno?” Reno memulai misi penaklukannya dengan kata yang serupa dengan kata yang digunakan Bayu kemarin.

Mia menarik nafas tenang. Sudah sebegitu hapal dia dengan dialog yang akan terjadi, Mia menanyakan pertanyaan sama seperti yang ia tanyakan kemarin, “Kenapa kamu suka Mia?”

Lalu, menghela nafas dalam, “Ngga tahu.” Reno menjawab tenang. Jauh lebih tenang dibanding Karim yang tidak mampu duduk nyaman dibalik tong sampah.

Dahi Mia berkerut, “Jawaban apaan tuh? Kamu serius gak sih? Mia gak punya waktu untuk main-main, apalagi untuk hal seperti ini. Gak lucu tau”. Jawabnya sambil berbailk memunggungi Reno.

Baru hendak memulai langkah pergi, kakinya tertahan rangkaian kata-kata Reno, “Kalo gua jawab gua suka mia karena Mia ramah, ada selusin cewe yang keliatannya ramah kayak puteri Indonesia di sekolah ini. Tapi gua sukanya sama Mia. Kalo gua bilang gua suka Mia karena Mia pinter, kenapa gak sekalian aja gua nembak si Mela yang juara olimpiade fisika. Dan, paras Mia yang cantik juga ga bisa gua pake alasan. Banyak kan cewe yang lebih cantik dari Mia? Tapi, sekali lagi, gua sukanya sama lo, Mia. Jadi, gua harus ngomong gimana lagi? Kalo gua bicara lebih dari ini, artinya gua bohong, gua ngegombal.” Reno berkata setengah berapi.

“Tapi tetep aja alasan itu kedengarannya aneh..” suara Mia mulai melembut.

Reno tertegun sesaat, kemudian berujar santai, “Alasan? Gua ngga nyebutin satu alasanpun. Gua suka lo, karena lo adalah lo. Gua ngga punya alasan suka sama lo. Salah kah?” begitu lembut Reno menyebutkan kalimat itu.

“Kalo kamu gak punya alasan suka sama Mia. artinyaa” Mia berbalik kearah Reno, “Artinya Mia juga gak punya alasan tuk nolak kamu..”

“Jadi?” tatapan Reno meminta kejelasan.

“Jadi, jadiaaaan” jawab Mia sambil tersenyum manja sebelum melangkah pergi dengan riang.

Reno menatap Mia sampai menghilang di pintu kelas. Tersenyum, dia memutar pandanganya ke arah Karim yang sejak tadi melakukan standing applause tanpa suara.

Hari berganti. Reno dan Mia resmi berpacaran. Ramadhan tiba. Tidak ada hari dimana mereka tak saling menelpon untuk membangunkan sahur, atau bertanya berbuka dengan apa. Sesekali, mereka menyempatkan menunggu waktu berbuka bersama. Seperti hari itu,

“Ini lucu lho” Reno menunjukan sebuah boneka sapi pada Mia.

“Ihh.. kamu kan cowo, masa beli boneka. Lagian daerah seputar masjid kok tiba-tiba berubah jadi pasar begini” gerutu Mia.

“Yah.. namanya juga lagi bulan puasa. Aktivitas orang kebanyakan di masjid. Meski sekedar untuk menunggu buka. Jadi wajarlah kalo banyak pedagang takjil dan pedagang lain berseliweran disini” Reno masih tetap memperhatikan boneka sapi di tangannya.

“Udah ah.. diliatin mulu. Mending cari takjil.” Mia menarik tangan Reno, “Ngga jadi bang bonekanya” teriaknya pada pedagang boneka sapi tersebut.

“Hey, hey. Sabar dong” seru Reno sambil menyeimbangkan langkahnya yang terseret ditarik paksa.

“Itu rame-rame ada apa ya? Ke sana yuk.” gantian. Kini Reno yang menarik Mia menuju kerumunan di pelataran Masjid.

“Apan sih??? Gak ada yang seru kok disana.” Mia celingukan coba mencari tahu penyebab ketertarikan Reno, “Owh.. camp Ramadhan” gumamnya.

“Camp Ramadhan? Itu semacam kegiatan di bulan Ramadhan yah. Wah, aku ikut ah. Lagi bosen nieh, mau cari pengalaman” Antusiasme Reno bangkit.

“Kamu aja ah.. aku, ada banyak kerjaan di rumah.”

“Kalo begitu, aku daftar dulu ya. Kamu gak papa pulang sendiri?” Tanya Reno. Memastikan keputusannya tidak menyusahkan Mia.

“Ngga papa. Hati-hati ya” Mia melepas Reno hilang ditengah kerumunan.

“Sekarang aku mau ngapain ya?” Mia berpikir tentang aktivitas yang akan dilakukanya setelah Reno pergi. “Boneka tadi, kayaknya Reno suka banget deh. Aku beliin aja. Nanti biar jadi kejutan.”

Hari itu berakhir dengan Reno yang mendaftarkan diri dalam kegiatan Ramadhan di Masjid. Sementara Mia pulang membawa boneka sapi untuk nanti dihadiahkan kepada Reno. Sayangnya, boneka itu tidak akan pernah sampai ke tangan Reno. Tidak dalam waktu yang singkat.

Hari-hari dalam Ramadhan terus bergulir. Sampai akhirnya bulan suci itu berakhir dengan kumandang takbir. Semua bertakbir penuh suka cita. Kecuali Mia. Sebagian Ramadhan tahun ini ia habiskan dalam kesedihan dan kegelisahan. Sejak pertemuan di sore hari pada bulan Ramadhan lalu, mereka belum pernah bertemu lagi. Nomor Kontak Reno mendadak tidak aktif. Dan Mia tidak pernah bisa menemukan Reno di Rumahnya. Pikiran negatif bahwa Reno sedang menghindarinya mulai muncul. Tapi, setiap pikiran itu muncul, segera diusirnya.

Mia tahu bahwa setiap sore Reno selalu berada dalam agenda camp Ramadhan. Sayangnya, karena laki-laki dan wanita berada dalam ruang terpisah, Mia tak bisa menemuinya di sana. Sementara segera sesudah acara selesai, Reno selalu saja menghilang dari pandangan Mia. Terbiaskan oleh kerumunan.

Malam itu adalah hari ke tujuh setelah iedul fitri, untuk pertama kalinya setelah hilang tanpa kabar, Mia mendapat pesan singkat dari Reno. Dalam pesan itu tertulis, “Mia.. besok pukul 5 sore. Kita bertemu di tempat dimana cerita kita dimulai.”

Jam menunjukan pukul 5 sore, Mia sudah duduk menunggu di bawah pohon sukun di sekolah. Meski waktu masuk sekolah masih dua hari lagi, namun gerbang sekolah sudah tidak dikunci. Dan memang biasanya gerbang itu selalu dibiarkan terbuka. Sehingga Mia bisa masuk tanpa masalah.

Lima menit berselang, Reno tiba. Mia memeluk erat bungkusan kado berisi boneka sapi yang sudah sejak lama ingin dia hadiahkan.

“Sudah lama?” Reno bertanya dengan senyum hangat.

“Belum lama kok” Mia membalasnya juga dengan senyuman.

“Mia..” Nafas Reno terasa berat, “Terimakasih untuk semuanya” suaranya tenang namun sedikit begetar.

“Maaf ” lanjutnya, “Tapi kita harus putus”

Mia menundukan wajahnya, dia tidak menangis, tidak marah, entah ekspresi apa yang ada dimukanya. Mia berkata datar,”Kenapa?”

“Mia.. dulu, saya ngga ngasih Mia alasan untuk suka sama Mia. Dan Mia bahagia ngedengernya. Maka sekarang, saya rasa saya pun ngga akan kasih alasan apapun untuk berhenti suka sama Mia.” Sebuah rangkaian kata yang halus, namun tetap terasa menusuk-nusuk untuk Mia.

“Saya ngga bisa bicara apa-apa lagi. Maaf.. itu aja yang bisa saya sampaikan. Saya pulang ya. Mia juga langsung pulang. Dah sore, bentar lagi maghrib. Lagian ngga baik cewe-cowo berduan di tempat sepi kayak begini. Saya permisi” Reno melangkah pergi, tanpa menunggu Mia mengucapkan jawaban apapun.

Mia duduk bersandar dia bawah pohon sukun bersejarahnya. Dia hanya diam. Sementara Reno sudah keluar dari gerbang sekolah. Disana sudah menunggu Karim yang mengikuti Reno melangkah meninggalkan gerbang sekolah segera setelah Reno melewatinya.

Karim menepuk bahu Reno yang berjalan disampinya,”Gua gak ngerti ma isi otak lo bro. tega yah lo bikin cewe remuk redam kayak begitu. Lo kan bisa kasih tahu alasan yang sebenernya.”

Reno menunduk, dia menjawab pelan,”Gua tahu apa yang gua lakuin ini bukan keputusan yang bijak. Tapi, ini keputusan yang aman buat gua.”

“Keputusan aman gimana? Apa susahnya sih bilang, Mia maaf, Reno kemaren ikut camp Ramadhan dan Reno belajar bahwa pacaran itu ngga dibenarkan dalam Islam. Gitu aja kok repot.” Timpal Karim dengan muka masam.

“Iya gua salah. Dan gua bersedia nanggung segala akibat kesalahanya. Tapi, kalo gua bilang alasan sebenarnya, Mia akan tahu kalo gua masih tetep sayang sama dia. Dan potensi kita bakal terus berinteraksi akan tetap seperti sebelumnya. Dia pasti mikir kalo ngga papa kita ngga pacaran, yang penting silaturahmi tetep terjalin. Tetep ketemuan. Tetep smsan. Lah.. itu sih sama aja gua masih ngejalin hubungan sama dia. Mending sekalian aja gua ngga usah mutusin dia.” Dari pelan, nada suara Reno mulai meinggi.

“Jadi, sampe di sini aja kisah lo dan Mia, bro?” Tanya Karim.

“Eitss, jangan ngedahuluin Allah dong. Jodoh ada di tangan Dia. Justru dengan hal ini, gua optimis bahwa Mia bakal benar-benar jadi bidadari gua” ekspresi percaya diri Reno kembali.

“Maksudnya?” dan Karim kembali dibuatnya bingung.

“Lo tau? Mia salah dalam satu hal. Dia gak mau dicintai dengan sebuah alasan. Karena dia pikir itu akan membuat cintanya jadi memiliki ketergantungan. Maka kemudian, dia ingin dicintai tanpa alasan. Tapi, konsekwensinya, kalo dia ingin dicintai tanpa alasan, dia harus siap dicampakin tanpa perlu menerima alasan. Beruntungnya, prinsip itu kasih gua kemudahan. Setidaknya gua ngga perlu kasih alasan apapun tadi waktu mutusin dia.” Reno mulai memaparkan isi kepalanya.

“Segala hal itu perlu alasan” lanjutnya, “Dan benar, alasan itu adalah jembatan penghubung yang menghubungkan kita dengan hal tersebut. Seperti kata Mia, Hilang alasan, Runtuh jembatan, Berakhirlah hubugan”.

“Terus? Lo sekarang dah puas karena bisa ngebuktiin bahwa teori Mia salah?” ucap Karim sedikit sinis.

“Gua sayang dia. Gua ngga mungkin punya pikiran kayak begitu.” Jawab Reno membela diri. “Gua hanya ingin menunjukan pada dia bahwa solusi cinta sejati bukanlah dengan menghilangkan variabel jembatan. Namun dengan membangun jembatan itu dari bahan yang tidak bisa runtuh. Lo masih inget kata-kata pa ustad di camp Ramadhan?” Tanya Reno pada Karim.

“Yang mana. Tuh ustadz kan banyak ngomong. Yang spesifik dong kalo nanya” Karim masih sinistik pada sahabatnya.

“Gua lupa bahasa arabnya, tapi dia ngutip ayat Quran yang bunyinya kira-kra begini, apa yang ada pada manusia akan lenyap sedang apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” Reno tidak menimpali sikap dingin Karim dengan emosi.

Karim menghirup nafas dalam-dalam, “Kalo dah bawa-bawa al Quran repot nieh. Terus gimana maksudnya pak Ustad?”

Reno tersenyum,”Gua titipin Cinta gua buat Mia di sisi Allah SWT. Biar abadi di sana. Gua lagi ngebangun jembatan yang ngga akan bisa diruntuhin meski sangkakala Izroil ditiup sekalipun.”

Reno sejenak menghentikan kata-katanya, tersenyum, menatap langit “Gua pengen mencintai Mia dengan jalan yang Allah Ridhoi. Biar gua ngga cuma bisa jalan-jalan sore sama dia di dunia ini aja. Tapi, nanti di surga pun kita berdua masih bisa jalan-jalan nyari kolak bareng.”

“Bentar, om. Mia kan ngga tau kalo lo masih suka sama dia. Dan lo juga ngga ngomong apapun tentang jembatan atau apalah itu. Gimana ceritanya lo bisa ngajarin Dia tentang pemikiran lo yang ngejelimet ini” Karim memotong hayalan Reno dengan rentetan pertanyaan menohok.

“Hari ini Mia sudah belajar bahwa prinsip ingin dicintai tanpa alasannya salah. Adapun tentang membangun jembatan immortal yang ngga akan bisa runtuh, gua akan tunjukin ke dia bila tiba saatnya nanti. Saat gua dah sanggup jadiin dia yang halal buat gua. Saat itu gua akan cerita semuanya.” Jelas Reno.

“Dan lo yakin bahwa Mia akan percaya begitu aja. Maafin lo semudah itu?” Melodi sinis Karim untuk Reno belum berakhir.

“Hahaha” Reno malah tertawa. “Ya ngga lah. Sebelum gua sempet ngomong mungkin nanti gua udah dicakar duluan.”

“Alhamdulillah kalo lo masih realistis. Gua kira tingkah kepedean lo dah nutupin akal sehat lo” sindir Karim.

Reno menghentikan langkah kakinya. Matanya kembali menerawang jauh, “Iya. Gua masih realistis. Dan realitanya, gua berlaku seperti ini sebagai biaya sewa atas cinta gua yang gua titipin di sisi Allah. Bila Mia memang jodoh gua, maka ngga sulit bagi Allah untuk melunakan hati Mia nanti. Sebesar apapun kebenciannya, semua itu akan luluh atas izin Allah. Lalu, gua punya kesempatan untuk bilang ke dia. Mia, ini jembatan dari Reno untuk Mia.” Mata Reno berkaca-kaca, menemani senyum dibibirnya.

“Ok. Pertanyaan terakhir. Terus. Kalo Allah berkehendak bahwa Mia bukan jodoh lo, lo mau apa?” Tanya Karim sambil melipat kedua tanganya di depan dada.

“Kalo belum jodoh ya” Reno berpikir sejenak, “Ngga tau. Gua belum mikir sejauh itu”

***

TAMAT 

Berbagi Informasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *