Notulensi Kuliah Tasqif Online Forsi Himmpas Indonesia

Beberapa waktu lalu, Bidang Pengembangan Keilmuan Puskornas Forsi Himmpas Indonesia mengadakan Kuliah Tastqif Online. Kegiatan tersebut diikuti tidak kurang dari 40 orang dari berbagai Program Pascasarjana se-Indonesia. Bahkan ada beberapa peserta dari Kampus di Luar Indonesia. Kegiatan yang mengoptimalkan grup jejaring online whatsapp rencananya diselenggarakan secara berkala dengan tema yang berbeda.

Notulensi Kuliah Tasqif Online Forsi Himmpas Indonesia

Penanggungjawab : Bidang Pengembangan Keilmuan Puskornas Forsi Himmpas
Notulen : Septi Rostika
Tema Kuliah Online : Menapaki dan Meretas Karir Akademik dan Profesional Mahasiswa Pascasarjana Indonesia
Hari, Tanggal : Sabtu, 11 Oktober 2015
Pukul : 20.00 s.d. 22.30 WIB
Lokasi : Grup Whatsapp Tasqif Online Puskornas
Pembicara : 1.      Muhammad Khafidh (Dosen UII Yogyakarta, Mahasiswa Doctoral di University of Twente Belanda)
    2.      Min Fadli Darain (Universitas Pancasila, Jakarta)
Moderator : Kustomo

SESI I “Menapaki dan Meretas Karir Akademisi”

Pembicara: Muhammad Khafidh

Disclaimer: Jadi ini hanya berdasar pengalaman yang saya lakukan dan juga beberapa opini dari saya. Mungkin berbeda dengan kalau orang lain yang menyampaikan materi ini.

Ada beberapa yang ingin sedikit saya share berdasarkan TOR dari panitia:

  1. Kenapa harus kuliah di LN?
  2. Suka duka menjadi akademisi dan peneliti
  3. Dakwah akademik
  4. Tips dan trik meraih beasiswa LN dan DN

Saya akan menyampaikan per-point.

  1. Kenapa harus kuliah di LN?

Jawabnya adalah tidak harus. Mungkin kalau kita elaborasi lebih lanjut, mungkin pertanyaannya saya ganti. Apa sih keuntungan dan tantangan kuliah di LN? Karena di forum ini semua anak-anak S2, maka saya akan fokus bahas yang berkaitan dengan S3.

Keuntungan kuliah S3 di LN secara umum:

  1. Akses yang lebih luas. Akses ini termasuk akses jurnal, akses alat-alat lab, akses jaringan keilmuan dll.
  2. Research habit. Di LN kita akan belajar tentang cara mereka melakukan riset, di LN mungkin cara mengorganisir riset berbeda dengan Indonesia. Ya bisa juga dikatakan “madzhab” riset.  Dan “madzhab” ini beda-beda ya. Kayak seperti madzhab asia timur, madzhab eropa, dll.
  3. Tentu kita tidak hanya belajar bidang studi aja disini. Tapi juga budaya dan kebiasaannya orang sini. Bahasa, kebiasaan, nilai dalam masyarakat. Intinya ada yg baik, ada yang buruk. Ini yang tidak akan kita dapatkan kalau kuliah di DN. Maksudnya kalau di-comparedengan budaya kita, ada yang baik ada yang buruk (sesuai perspektif umum orang Indonesia)

Beberapa tantangan kuliah di LN:

  1. Jauh dari keluarga. Well, untuk orang yang gampang homesickini jadi tantangan berat. Bisa memecah konsentrasi. Jadi pastikan yang mau kuliah di LN harus struggle Apalagi untuk yang sudah berkeluarga, sangat tidak direkomendasikan untuk ditinggal di Indonesia. 4 tahun untuk S3, walaupun beberapa negara ada yang 3 tahun. Untuk Belanda umumnya dalam 4 tahun.
  2. Harus mandiri. Namanya di negeri orang, kita dituntut lebih mandiri. Apa-apa bisa sendiri. Apalagi dengan habitnegara yangg berbeda. Ap-apa yng tidak pernah kita lakukan di Indonesia, akan kita lakukan disini. Walaupun kalau sampai Indoesia lagi kita malas lagi mengerjakannya. Misal yang paling umum, harus masak sendiri dan itu setiap hari.
  3. Iklim riset yang beda. Kita di Indonesia kan lebih menunggu instruksi pembimbing baru kita ngerjain. Kalau di Belanda, peran pembimbing itu hanya mengarahkan. Dia tidak akan menyetir kita. Jadi dalam riset, kita mau melakukan ini dan itu harus inisiatif kita. Dan mereka tidakk akan menanyakan progresskita kalau kita tidak melaporkan. Intinya independent research. Disini juga based on results, mau kerja di kos juga tidak masalah. Yang penting progress-nya. Ini beda sama Jepang yang semua bergantung sama Sensei-nya. Ala kulli hal,mindset yang harus kita bangun, jangan selamanya generasi penerus harus kuliah di LN untuk dapat pendidikan yang baik. Tapi suatu saat kita tidak perlu ke LN karena kualitas DN juga tidak kalah dengan LN.
  4. Apa sih suka duka jadi akademisi dan peneliti?

Jadi sebelum S3, saya sempat mengajar setahun di UII, ya adalah sedikit pengalaman di dunia akademisi. Jadi status saya adalah dosen muda di sana

Keuntungannya (Plus):

  1. Kalau yang passion-nya mengajar, menyebarkan ilmu sebagai tabungan akhirat, ini akan jadi pekerjaan yang mengasyikkan. Ditambah suasana kerjanya islami. Dan juga ketemu anak muda setiap saat.
  2. Ritme kerja lebih nyaman kalau dibanding jika kerja di perusahaan swasta. Masih bisa mengerjakan banyak hal. Intinya kita mempunyai kemerdekaan dalam hal waktu, mau sibuk bisa. Mau yang sedang-sedang saja juga bisa.
  3. Updateilmu, ini sih kewajiban akademisi untuk terus update ilmunya.

Kekurangannya (Minus):

  1. Kita juga akan banyak disibukkan dengan hal-hal yang administratif. Ini akan sedikit menyebalkan bagi orang-orang yang tidak terlalu suka dengan birokrasi. Apalagi dosen muda akan banyak dibebani dengan hal-hal administratif.
  2. Duka dalam casesaya, sering dikira mahasiswa. Banyak pengalaman unik sebagai dosen muda, pernah dimarahin satpam (dikira mahasiswa). Selama setahun saya nguji sidang pendadaran 7 kali, dan dari 7 itu 4 diantaranya angkatannya diatas saya. Intinya sebenarnya kurang PD kalau kelihatan muda.
  3. Jika bicara maisyahdi-compare dengan anak teknik yang kerja di perusahaan pasti dibawahnya. Tapi cukup buat hidup nyaman tentram di Jogja yang juga nyaman. Tapi biasanya dosen kalau awal-awal harus berjuang, akan lebih baik bila dapat langsung lanjut sekolah.
  4. Terkait dakwah akademik.

Intinya, dalam dunia akademis, yang dilihat bukan background kita. Kamu orang merah, kuning atau hijau, tapi apa sih kompetensi kamu?

Oleh karena itu ambil keputusan bidang apa yang akan jadi spesialisasi kita. Fokus disana, jadilah orang yang disegani dalam bidang itu. Karen Islam banyak butuh orang Islam yang punya spesialisasi di banyak bidang. Bukan orang yang tahu banyak tapi tidak ada yang jadi spesialisasinya.

  1. Tips dan trik beasiswa DN dan LN

Alhamdulillah saya pernah merasakan baik DN maupun LN. S1 dapat beberapa beasiswa, S2 dapat fast-track DN dan sandiwich program LN, S3 dapat beasiswa LN.

Tipsnya:

  1. Cari info yang lengkap tentang beasiswa. Modal internet dan kesungguhan
  2. Penuhi semua requirements-nya. Bahasa dan IPK dibuat se-OK mungkin
  3. Terkadang beasiswa bisa didapat karen kita di-endorseoleh orang lain (bisa pembimbing kita atau yang lain). Makanya jaringan penting. Dan bangun reputasi kita sehingga kita bisa direkomendasikan oleh orang-orang itu untuk dapat beasiswa. Dan ingat bahwa membangun reputasi itu bukan kerja singkat.
  4. The last but not least,doa orang tua. Kita tidak pernah tahu, mungkin saja segala pencapaian kita bukan karen kehebatan kita, tapi karena doa orang tua kita dan doa-doa orang lain yang kita tidak tahu. Saya ada banyak pengalaman tentang hal ini. Banyak hal yang kayaknya susah ternyata bisa tercapai.

SESI II “Meniti dan Meretas Karir Profesional”

Pembicara: Min Fadli Darain

Syukur alhamdulillah diberi kesempatan bisa berbagi ide-ide dengan teman-teman se-Indonesia dan dunia di forum ini. Materi cukup berat karena saya juga sebagai pemula dalam dunia pekerjaan dan pemula juga dalam pendidikan pasca.

  1. Al-Ashr sebagai awalan dari kesempatan ini. Demi masa, manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan nasehat menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

Tidak mudah menjalani multi aktifitas jika itu bukan kemauan kita. Kerja, kuliah, organisasi tentu menyerap energi yang ekstra. Namun jika kemauan sudah “bulat” mudah-mudahan segala kemudahan akan menyertai. Faizaa ‘azamta fatawakkal ‘alallah.

Bekerja dan belajar, kedua disyariatkan. Bekerja terutama yang sudah mempunyai tanggungan nafkah, begitupun belajar agar ilmu terus ter-upgrade.

Pengalaman pribadi yang saya jalani, senin-jum’at kerja, jum’at sore dan sabtu kuliah, ahadnya kerja lagi (ganti waktu jam kerja). Maka ada suatu penguat bagi pribadi bahwa semua aktifitas ini sebagai hiburan. Kenapa? Allah telah mengatakan bahwasannya hidup di dunia adalah permainan dan kita disuruh untuk mempersiapkan kehidupan akhirat dengannya. Maka segala aktifitas ini tidak membawa ke istilah “stress” maklum kerja dengan berbagai tuntutannya.

Meniti karir dari bawah, fresh graduate biasa diuji daya tahannya menghadapi beban kerja, perintah atasan ada istilah “siap laksanakan”, agar karir kita semakin menanjak tentu harus didukung dengan keahlian-keahlian lain agar kita diberi kepercayaan sampingan di luar tugas utama kerja.

Pertanyaan 1

  1. Untuk dapat studi di luar, apa ada referensi profesor dan web yang memfasilitasi dan networkseperti apa yang paling dibutuhkan? Apakah akademisi atau tokoh masyarakat yang paling diutamakan? Apakah pertimbangan pengalaman kerja juga sangat menentukam kelulusan disamping bahasa dan IPK?
  2. Berdasarkan pengalaman di Negeri Kincir Angin, apa sih parameter yang paling menentukan kemajuan riset di sana kalau dilihat dari sisi SDM?

Jawaban

  1. Referensi profesor cari yang sesuai bidang. Gimana caranya? Cari darr publikasinya. Kalau sudah dapat tinggal email“Prof, saya udah baca paper anda yang ini dan itu. Saya tertarik dengan penelitian Anda. Yang paling utama, Background riset kita, publikasi, IPK, bahasa, namun itu semua bisa dipermudah bila kita memiliki jaringan.
  2. Tentang riset outputitu publikasi dan kebermanfaatannya. Hampir semua project riset mengikutsertakan perusahaan sebagai pengguna hasil riset. Merekapun ikut membiayai riset.

Pertanyaan

  1. Bagaimana mengatasi ‘’kurang PD’ saat awal-awal menjadi dosen? Apa saja yang harus dipersiapkan untuk menjadi dosen yang ‘sukses’? Apa visi Mas Khafidh yang sudah jadi dosen, bagaimana merealisasikan visi tersebut?
  2. Bagaimana tantangan dan peluang dakwah akademik (versi di Indonesia), kalau sebagai dosen mudah menyebarkan fikroh, lah bagaimana kalau sebagai staff akademik saja?

Jawaban

  1. (a) Pandai menempatkan diri; (b) Pada intinya, Guru yang cerdas melahirkan murid-murid yang cerdas; (3) Visinya, Saya ingin di lingkungan yang saya bisa selalu updateilmu dan menyebarkan ilmu. Sebagai bekal akhirat. Caranya: berusaha menjadi dosen yang profesional.
  2. Pada intinya semua punya lahan masing-masing. Kalau dosen bisa menjangkau mahasiswa dan staff akademik menyebarkan sesuai jangkauan.

Pertanyaan

 

  1. Bagaimana me-managewaktu dengan baik saat harus tumbukan antara kuliah dan kerja? Jika atasan marah-marah bukankah resikonya bisa dipecat, siapkah menghadapi kondisi tertekan seperti itu? Apa memungkinkan jika mengadakan halaqoh di pabrik atau industri?
  2. Bagaimana kondisi ke-Islaman di luar negeri (Belanda khususnya dan Eropa)? Kalau Halaqoh(Liqo/Usroh) atau kajian umum lainnya bagaimana? Terutama di Paris dan Barcelona. Bagaimana Peluang dan tantangan dakwah di Belanda?
  3. Jika dibandingkn antara kuliah di dalam negeri dengan luar negeri mana yang tingkat kesulitanya lebih tinggi karena yang saya dengar dari banyak pembicara yang lulusan LN katanya tekanan psikologis misalnya beban tugas-tugas dll, itu di LN sangat minim bahkan kita bisa enjoydalam melakukan aktifitas akademik, berbeda dengan di DN yang beban atau tekanan psikologisnya membuat mahasiswa jd stress dan berdampak buruk. Lalu bgmn mengaplikasikan kemanfaatan riset tersebut? Terutama ilmu sosial yang tidak se-riil ilmu eksakta.

Jawaban

  1. (Sdr.Min Fadli) Karena kerja adalah aktifitas yang pertama sebelum kuliah yang saya jalani, maka kerja pilihannya (tergantung urgensinya juga misal rapat yang urgent, jika cuma panggilan biasa bisa dikomunikasikan dengan pimpinan dan ini pernah terjadi). Dari awal juga sudah membayangkan akan seperti ini makanya sudah mempersiapkan juga langkah antisipasinya. Belum lagi resiko mutasi yang sewaktu-waktu bisa saja terjadi, maka kuliahnya? Kita serahkan kepada Allah karena telah ber-‘azzam.
    Mungkin saja, bisa dimulai dengan memberi contoh yang baik-baik, misal kita tetap menjaga waktu-waktu shalat, nanti perlahan bisa diadakan.
  2. (Sdr.Khafidh) Di Belanda hampir setiap kota ada kajian. Ada yang bulanan ada yg pekanan. InsyaAllah kalau di perantauan yang di Indonesia biasanya tidak mengaji disini jadi mengaji (maklum ada makanan gratis). Untuk Paris juga ada. Kalau Barcelona belum tahu karena jangkauan belum sampai kesana. Tantangan dan peluang: umumnya minoritas, pasti rasa persaudaraan lebih kuat. Mau mengaji harus 4 jam naik kereta pun dilakukan. Disini banyak orang Indonesia yang lama tinggal di Belanda. Jad i salah satu obyek dakwah. Karena mereka selamanya disini. Tidak sepeti kita yang datang dan pergi.
  3. (Sdr.Khafidh) Tergantung masing-masing negara. Kalau di Eropa lebih santai. Beda dengn Korea dan Jepang. Bisa stress juga disana. Disini based on results. Kerjanya terserah. Saya disini kan statusnya pegawai. Jatah libur saya kurang lebih 7 minggu. Jadi memang kalau Eropa lebih enak. Tapi itu juga tergantung grup risetnya. Kadang ada grup riset yang kepala lab-nya bukan orang Belanda. Itu beda lagi. intinya tidak bias disama-ratakan.

Closing Statement

Min Fadli, Realita hari ini dalam bekerja ada yang pekerja karena mengharap salary dan ada yang mengharap ridho ilahi. Jika yang pertama ia tak mendapatnya maka resign jadi jalan keluar. Dan yang kedua maka hanya ada kata syukur dan sabar dalam menghadapinya. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.

Khafidh, Jika kuliah ke LN siap-siap melakukan sesuatu yang mngkn tidak dilakukan di Indonesia, contoh: jadi Khotib, mimpin doa dll. Bukan karena apa-apa, tapi memang karena tidak ada yang lain. Kata penutup: Setetes keringat orang tuamu jatuh, selangkah kamu harus melangkah maju. Semangat.

Diedit oleh Tim Humas Puskornas Forsi Himmpas

Berbagi Informasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *