MEA Sudah di Depan Mata, Apakabar Industri Konstruksi?

Diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) di kawasan negara-negara Asia Tenggara tinggal menghitung hari. Kondisi ini akan membuat semakin terbukanya hubungan antar negara. Integrasi yang difokuskan adalah adanya pasar tunggal, integrasi ekonomi dunia, persaingan ekonomi, dan pengembangan ekonomi. Bagi setiap negara hal ini merupakan tantangan sekaligus peluang yang harus bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin.

MEA yang telah disepakati dan siap dijalankan ini tentunya akan berdampak pada sektor-sektor penting suatu negara. Sektor ekonomi, pariwisata, politik, budaya, konstruksi, bahkan kuliner. Semua sektor ini harus siap karena semuanya memiliki peranan yang vital dalam menopang kesiapan negara di MEA ini. Sektor ekonomi nampaknya menjadi titik fokus utama karena memang main goal MEA ini adalah untuk pertumbuhan ekonomi yang pesat. Namun bagaimana dengan sektor yang lain? Bagaimana dengan sektor konstruksi?

Industri konstruksi dikenal sebagai kegiatan yang sangat terfragmentasi. Namun jika dilihat sejenak, Indonesia memiliki potensi pasar konstruksi terbesar diantara negara-negara ASEAN. Menurut DR (HC). Ir. Djoko Kirmanto, Dipl. HE, mantan Menteri Pekerjaan periode sebelumnya bahwa pasar konstruksi di Indonesia diperkirakan akan menyumbang sekitar 60% dari nilai pasar konstruksi ASEAN. Potensi pasar konstruksi yang besar tersebut tentunya akan menarik minat para perusahaan yang bergerak di bidang rancang bangun negara lain seperti Tiongkok, Jepang, Korea, India, Perancis, Australia, Inggris, Italia, Jerman, dan Amerika Serikat yang telah mulai menginjakkan kakinya di negara-negara ASEAN. Maka dari itu pasca pemberlakukan MEA ke depan, perusahaan-perusahaan rancang bangun Indonesia tidak hanya akan bersaing sesama mereka, tetapu akan juga bersaing secara penuh dengan perusahaan rancang bangun dari negara-negara di ASEAN.

Namun pada kenyataanya industri konstruksi di Indonesia masih dibilang lemah jika dibandingkan negara-negara di atas. Hal ini akan menjadi kendala utama baik di Indonesia maupun negara lainnya. Namun khusus untuk Indonesia, rendahnya mutu pekerjaan masih mewarnai penyelenggaraan konstruksi. Di bidang jalan misalnya masih terjadi jalan yang mengalami kerusakan struktural sebelum umur rencana berakhir. Kegagalan konstruksi juga beberapa terjadi dalam pembangunan jembatan dan bending. Runtuhnya jembatan Kutai Kartanegara pada tahun 2011 dan Bendung Situ Gintung tahun 20009 dapat menjadi contoh.

Di sisi lain, tingkat kecelakaan kerja konstruksi di Indonesia bisa dibilang cukup tinggi. Industri konstruksi pada tahun 2010 masih menduduki rangking tertinggi kecelakaan kerja yang berakibat fatal (31,9%), di atas lapangan kerja lain yaitu industri (31,6%), transportasi (9,3%), kehutanan (3,8%), pertambangan (2,6%), dan lain-lain (20%). Selain itu perbandingan jumlah kontraktor umum dan kontraktor spesialis di Indonesia bisa dikatakan masing njomplang. Jumlah kontraktor umum di Indonesia sudah lumayan banyak namun kontraktor spesialis masih sangat minim bahkan hampir tidak ada. Bila dibandingkan negara lain masih sangat terpaut jauh. Jumlah kontraktor spesialis di berbagai negara seperti Jepang sekitar 59% dari jumlah kontraktor yang ada, bisa dikatakan 41% sisanya adalah kontraktor umum. Kemudian Ameriak 72%, Inggris 65%, dan Tiongkok 48%.

Bagi industri konstruksi nasional, dengan adanya MEA ini akan menjadi tantangan yang besar. Maka melihat dari kekurangan-kekurangan yang ada tersebut maka harus ada strategi yang dilakukan. Strategi-strategi tersebut adalah meningkatkan daya saing pelaku usaha konstruksi, kontribusi di pasar nasional, partisipasi di pasar regional ASEAN. Kemudian langkah konkret yang dilakukan yaitu peningkatan profesionalisme dan peran pembinaan pemerintah, rekonstruksi sistem penyelenggaraan industri konstruksi, pengembangan sistem rantai pasok dan kemitraan konstruksi, pengembangan alternative project delivery dan Public Private Partnership (PPP), pemihakan pelaku usaha nasional, kecil dan daerah.

Memang kelihatannya sangat banyak yang harus dilakukan. Karena sejatinya kita sudah dibilang sudah terlambat kalau dalam hal persiapan. Karena seharusnya tahun 2015 dan 2016 harus sudah siap menjalankan. Namun tidak ada kata terlambat untuk mempersiapkan diri. Oleh karena itu mulailah dari diri masing-masing. Karena persaingan akan membawa dampak efisiensi dan dorongan untuk maju.

Pustaka:
Kementerian Pekerjaan Umum. 2013. Konstruksi Indonesia: Pengembangan Pasar dan Daya Saing Industri Konstruksi Nasional Dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN Pasca 2015. Badan Pembinaan Konstruksi. Jakarta.


(1) Artikel ini juga terbit di: http://anakundip.com/aku-cinta-undip/mea-sudah-di-depan-mata-apakabar-industri-konstruksi/

(2) *sumber gambar: sp.beritasatu.com


Penulis: M. Nur SholeP60218-144340-0011-225x300h (Mahasiswa Magister Teknik Sipil 2014 dan Anggota Puskornas Forsi HIMMPAS Indonesia 2016)

 

Berbagi Informasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *