Mengetahui Banyak tentang Sedikit

Indonesia, begitulah negeriku tercinta. Usianya sudah tidak lagi muda. Sudah sepantasnya Indonesia maju melesat seperti anak panah. Setelah sekian lama berjuang berbenah mengatasi berbagai permasalahan dan memperbaiki segala kekurangan. Hadirnya berbagai Perguruan Tinggi di pelosok tanah air menjadi bukti bahwa Indonesia layak untuk maju melesat. Namun, apakah Indonesia benar-benar mampu maju melesat bersaing dengan negara-negara lain? Profesor di sebuah Perguruan Tinggi Negeri mengatakan:

“… Pendidikan di Indonesia ini berjalan secara bertahap sejak zaman ini mulai merdeka sampai zaman sekarang ini bahkan lewat pergantian menteri dan lain sebagainya selalu mengalami penyempurnaan – penyempurnaan.”

Dari ungkapan di atas tentunya dapat diketahui bahwa memang seluruh sumber daya manusia di Indonesia dari masa ke masa terus melakukan perbaikan dan perubahan. Seperti halnya pada sebuah kurikulum yang dinilai banyak mengundang kontroversi disetiap perubahannya. Lanjut Prof. Dr. Baharuddin menjelaskan:

“… Terkait dengan kurikulum, misalnya kalau kita berkaca ke luar negeri. Di negara – negara yang sudah maju itu sesungguhnya, kurikulumnya itu adalah disesuaikan dengan potensi peserta didik yaitu pencarian bakat dan minat. Sehingga saya lihat betul ketika anak tersebut masuk TK atau masuk SD, anak tersebut begitu masuk sesungguhnya telah memasuki kawasan pencarian bakat dan minat. Setiap anak diberikan alat bermain sebanyak – banyaknya lalu kecenderungannya kemana. Kalau kecendrungannya ke sini di akan diketahui bakat dan minatnya mungkin anaknya ahli biologi, kalau ke sini nanti dia ahli pertanian, mungkin dia juga ahli kedokteran, mungkin dia fisika, mungkin kimia, mungkin hukum dan lain sebagainya. Dilihat dari sejak awal lalu diikutilah sampai dia SD, SMP dan seterusnya sampai dia Doktor. Sehingga di sana itu, seorang itu adalah seseorang yang mengetahui banyak tentang sedikit, sesuai dengan bakat dan minatnya.”

Perubahan-perubahan kurikulum yang terjadi di Indonesia saat ini telah sampai pada Kurikulum 2013 atau yang biasa disebut K-13. Banyak sekali guru-guru yang merasa belum mampu mengaplikasikan seluruh isi dari kurikulum tersebut. Misalnya pada sisi proses penilaian. Guru mengalami kesulitan karena harus menggunakan komputer atau lap top. Hal ini biasanya terjadi pada guru-guru yang berada di daerah-daerah yang jaraknya 100 km dari kota. Meskipun demikian menteri pendidikan tidak memaksakan pelaksanaan kurikulum 2013 ini. Hanya sekolah-sekolah yang mampu saja yang boleh menerapkan kurikulum 2013.

Dalam hal ini, seakan-akan memang terlihat terus menerus mengalami perubahan. Setiap ganti menteri pendidikan, berganti pulalah kebijakannya. Pandangan-pandangan ini sebenarnyalah yang menjadi satu diantara penghambat penerapannya kurikulum baru. Diperbaharuinya kurikulum sebenarnya telah mengalami proses yang cukup panjang. Menimbang baik dan buruknya. Kurang dan lebihnya. Efektif dan tidaknya. Cocok dan tidaknya jika diterapkan di negara Indonesia. Tentunya hal ini juga disesuaikan dengan perkembangan zaman. Seandainya kurikulum di Indonesia tetap bertahan dengan kurikulum tradisional, tentulah Indonesia akan tertinggal oleh negara-negara pesaing. Hal inilah yang seharusnya dipahami oleh seluruh kalangan pendidik dan kependidikan.

Berkenaan dengan pencarian minat dan bakat, hal ini juga telah terangkum dalam Kurikulum 2013. Adanya program lintas minat menjadi salah satu penjurusan setiap peserta didik yang disesuaikan dengan keinginan mereka masing-masing. Sebagaimana menurut Prof. Dr. H. Baharuddin menuturkan:

“… Indonesia dengan padatnya kurikulum kita yang kita pelajari itu seolah-seolah memang ada unsur pencarian bakat dan minat, sampai ada kelas khusus seperti kelas akselerasi. Itupun kalau murni sebenarnya bagus, tapi yang terjadi adalah ikut campur orang tua, sehingga yang karep itu bukan anaknya, yang punya mau itu orang tuanya. Sehingga itu ada juga kelemahan – kelemahannya di samping kelebihan – kelebihannya yang banyak. Sehingga menurut saya, kita ini masih berkutat pada anak yang mengetahui sedikit tentang banyak. Sehingga kalau saya lihat sarjana luar negeri kalau dia misalnya tamat SMA saja dia sudah bisa bekerja dan ahli dia dibidang itu. Apalagi kalau dia berminat dibidang akademik bisa melanjutkan S1, S2, dan S3. Orang yang tahu banyak tentang sedikit inilah sesungguhnya SDM yang sangat bagus. Walaupun kita juga tidak bisa memungkiri ada anak yang mempunyai bakat banyak tapi kerjakan juga sesuai dengan bakatnya yang banyak itu. Yang bakatnya satu, dua ya kerjakan juga. Tapi kalau kita mengelompokkan anak sesuai dengan bakat minatnya, SDM yang beginilah sesungguhnya yang mampu menggali SDA di Indonesia. Saya tidak meremehkan bangsa saya sendiri, tidak meremehkan orang Indonesia, banyak orang Indonesia yang pinter ini. Tapi ketika dia lebih berhasil melanjutkan pendidikan ke luar negeri dan saat kembali katanya tidak dihargai hingga mereka lalu diambil oleh luar negeri. Contoh kecilnya di Indonesia adalah serial film Upin dan Ipin. Sebenarnya itu karya anak Indonesia yang di ambil alih oleh luar negeri tapi dijadikan tontonan orang Indonesia. Hal ini karena animasi karyanya tidak dihargai oleh Indonesia. Inilah barangkali menurut saya tidak lalu menapikan bahwa sesungguhnya banyak ide-ide dari pemerintah yang telah dilaksanakan, tapi saya kira belum sepenuhnya itu dilaksanakan. Kita study banding ke luar negeri itu sesungguhnya juga kan mengambil yang baik dari sana dan kita terapkan sesuai dengan karakter bangsa ini sesungguhnya itu.”

Dapatkah dibayangkan pendidikan di Indonesia saat ini? Seiring perubahan-perubahan yang dilakukan oleh pemerintah sendiri, ternyata masih ada karya anak bangsa yang merasa bahwa karyanya belum dihargai oleh negeri ini. Juga terhadap pemberitaan beberapa waktu lalu yang mengatakan bahwa hasil riset Pak Warsito diambil alih oleh negara tetangga karena mereka memiliki dan mampu memberikan dana lebih untuk melanjutkan riset yang dilakukan oleh Pak Warsito. Dalam hal ini Prof. Dr. H. Baharuddin menyikapi dengan bijaksana yakni:

“… Mungkin pemerintah belum membuktikan barang kali keahliannya itu, kurang cepat merespon keahlian seseorang itu. Seperti Pak Dahlan Iskan, beliau pernah terapi Steam Cell di Singapura. 5 tahun sebelumnya beliau masih dipapah dan setelah itu beliau bisa berdiri tegak. Sekarang di Surabaya sudah ada oleh dr. Purwati. Hanya memang karena penemuan baru, dan ketika kita berobat itu memperbaiki sel-sel yang lain juga sehingga orang yang berumur 90 an bisa berjalan tegak. Nah ini harus segera di respon termasuk sarjana-sarjana kita yang dulu misalnya SMA-nya di Indonesia dan setelah itu melanjutkan ke luar negeri telah dia menjadi team ahli lalu bawalah ia pulang ke Indonesia lalu diakui diberi penghargaan sesuai dengan keilmuannya.”

Al-Qur’an sendiri telah mengatakan dalam surat al-Mujadilah ayat 11 yang berbunyi:

Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Lanjut beliau:

“Jadi kalau seseorang mempunyai keahlian itu maka Allah akan mengangkat derajatnya. Tidak hanya masyarakat melainkan pemerintah seharusnya juga. Sesuai dengan kadar keIlmuannya.”

Dari ragam warna dan warni pendidikan di negeri tercinta ini, tentu sudah dapat dilihat apakah Indonesia mampu maju melesat bersaing dengan negara-negara lain? Dari hal inilah, diharapkan semua lini, orang-orang yang bergerak di dunia pendidikan dan non kependidikan bersatu, bersinergi membangun dan memajukan Indonesia dengan pendidikan. Sehingga dengan semakin baiknya pendidikan di negeri ini, akan semakin memperjelas status Indonesia di mata negara-negara lain bahwa Indonesia juga mampu bersaing. Akhirnya didapatkanlah sebuah solusi yang tepat menurut prof. terhadap permasalah yang terjadi yakni:

“Seseorang harus dilayani sesuai dengan bakat dan minatnya. Dengan kemampuannya ke depan, sehingga silabi kita disesuaikan dengan dengan pencarian bakat dan minat. Jangan semua orang dianggap sama dan tidak juga dipaksa-paksakan. Dan sudah tentu kita menyajikan kurikulum sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik. Yang penting belajarnya itu tuntas.”


Keterangan: Tulisan ini merupakan rangkuman hasil diskusi pendidikan yang dilakukan oleh HIMMPAS UIN Maliki Malang bersama Prof. Dr. H. Baharuddin

Berbagi Informasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *