Pendidikan sebagai Sarana Membenuk Bangsa Cerdas dan Berkarakter

Menjadi cerdas adalah kebanggan setiap insan. Di dalam lingkungan sekolah, murid yang cerdas, apalagi berprestasi, kerap kali mendapat pujian dan penghormatan. Hal ini menujukkan bahwa kecerdasan dan prestasi dalam akademik dapat meningkatkan derjat seseorang. Namun, kenyataannya banyak orang yang tidak dapat menggunakan kecerdasannya dengan tepat. Terbukti dengan banyaknya para pengemban tanggung jawab pemerintahan, yang notabene adalah orang-orang berpendidikan tinggi, justru melakukan korupsi sehingga mengakibatkan kerugian pada Negara. Belum lagi mengenai banyaknya berita kriminalitas lainnya yang dilakukan oleh orang dewasa ataupun anak-anak. Oleh karena itu, bangsa ini bukan hanya membutuhkan orang yang cerdas saja. Bangsa ini juga membutuhkan orang yang memiliki karakter yang kuat sehingga dengan kecerasannya orang tersebut mampu membawa nama baik agama dan bangsanya.

Menilik dengan lebih spesifik, Bangsa Indonesia saat ini tengah mengalami empat krisis. Empat krisis tersebut adalah krisis ideology, krisis jati diri, krisis kepercayaan, dan krisis budaya. Krisis ideology adalah krisis yang terjadi pada masyarakat yang ditandai dengan hilangnya nilai-nilai pancasila dalam implementasi hidup masyarakat. Krisis jati diri adalah kriris yang ditunjukkan dari sifat tidak percaya dirinya masyrakat Indonesia untuk mengakui bahwa dirinya adalah WNI ketika berada diluar negeri. Kriris kepercayaan ditunjukkan dengan banyaknya masyarakat yang saling tidak percaya satu sama lain, masyarakat yang tidak percaya dg pemeritah, atau ketidakpercayaan yang terjadi antar satu lembaga dengan lembaga lain, dll. Terakhir, krisis budaya adalah krisis yang tampak dari hilangnya sifat sopan santun, malu atau budaya timur lainnya yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia.

Selain empat krisis yang dialami oleh bangsa Indonesia, Bangsa Indonesia juga harus bisa mengimbangi tuntutan perkembangan dunia di abad 21 ini. Tuntutan tersebut mencakup tuntutan leadership, digital literacy, entrepreneurship, dll. Tuntutan tersebut membuat banyak perbedaan pada aktivitas dan pola piker anak zaman sekarang dengan anak zaman dulu. Pada zaman dulu,  impian dan tuntutan anak masih sangat mendukung dalam tumbuh kembang mereka. Pada saat itu mereka terbiasa untuk melakukan aktifitas mencari rumput untuk ternak, pergi kesawah, memandikan sapi, dll. Namun, anak zaman sekarang lebih cenderung melakukan aktifitasnya di dalam kamar atau rumahnya dengan memanfaatkan teknologi. Hal ini menjadikan anak-anak menjadi mudah sakit dan kurang pandai dalam berinteraksi atau memahami orang lain. Meskipun begitu, tuntutan abad 21 akan sealu berjalan dan berkembang. Anak-anak sekarang, dengan perkembangan teknologinya, disiapkan untuk dapat menghadapi perkembangan zaman dan persaingan global yang tidak bisa dihindari.

Berdasarkan dari penjabaran empat krisis dan tuntutan abad 21 diatas, hal tersebut semakin menguatkan pentingnya pendidikan berbasis karakter untuk diterapkan. Di dalam pendidikan formal, dikenal sebuah penerapan yang diberi nama “pendidikan karakter”. Pendidikan karakter diterapkan melalui kurikulum, ekstrakulikuler, kebiasaan, dan keteladanan. Sehingga, ilmu dan skill yang diperoleh siswa dapat dipadukan dengan karakter yang baik untuk menghasilkan banyak manfaat dan tidak membawa keburukan. Pendidikan berbasis karakter diharapkan dapat menumbuhkan generasi-geerasi yang siap mengisi Indonesia dengan baik, yaitu generasi yang mampu berdaya saing global namun tetap memberikan kontribusi dan membawa nama baik bangsa.

Berbicara mengenai karakter sendiri, karakter adalah suatu keterbiasaan. Oleh karena itu untuk membentuk karakter, tidak bisa hanya diserahkan pada pendidikan formal saja, tetapi juga pendidikan informal (keluarga dan masyarakat) juga sangat berpengaruh dalam terbentuknya insan yang cerdas dan berkarakter. Jadi, pendidikan berbasis karakter harus ditanamkan sejak dini baik di sekolah, rumah, masyarakat, lembaga bimbingan belajar, ataupun yang lainnya.

Terlepas dari usaha penanaman karakter secara tersistem, salah satu cara ampuh dan dapat dilakukan oleh banyak orang lainnya adalah dengan memberikan keteladanan. Memberikan keteladanan dimulai dari diri sendiri. Sehingga kita tidak hanya ngoyo dalam design  dan sistem penerapan pendidikan karakter, tetapi kita juga dapat menubuhkan bangsa yang cerdas dan berkarakter dengan memperbaiki diri dan menjadi teladan bagi masyarakat di sekitar kita.


Keterangan: Tulisan ini diinspirasi dari hasil kunjungan diskusi kami mengenai Peran Pendidikan dalam membangun karakter bangsa di Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah.

Berbagi Informasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *