Problematika dan Masa Depan Pendidikan Indonesia untuk Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean dan Lajunya Perubahan Zaman

Pendidikan yang dilakukan umat islam harus hebat dan kuat. Dalam semua lini harus bisa mengembangkan indikator-indikator keunggulan dalam islam. Dalam rangga era global abad 21 ada 4C yang harus dikuasai, yaitu: (1) critical thinking adalah berpikir kritis,  kita diminta untuk bertabayun supaya tidak langsung percaya dengan informasi yang beredar,  (2) creative tinking adalah berpikir kreatif, kalu ingin sukses maka harus kreatif dan mampu mengembangkandan memanfaatkan akal agar menjadi wakil Allah dan tidak menjadi pengikut terus, (3) collaboration adalah kemampuan berkolaborasi atau kemampuan bekerja sama, jika kita unggul dengan kelompok kita saja maka kita akan tertinggal,  (4) communication adalah kemampuan komunikasi, bagaimana cara memahami sudut pandang orang lain dan bagaimana menyakinkan orang lain. Empat C ini jika dikuasai kita akan sukses di dunia dan akan menjadi pemimpin yang baik.

Indonesia pada tahun 2035 akan memetik dari bonus demografi yang telah dimulai dari tahun 2010, bahwa pada tahun tersebut usia yang produktif pada posisi yang sangat tinggi. Hal ini menjadi situasi yang menguntungkan bagi Indonesia.  Bonus demografi sebagai modal usia produktif melimpah bila kompeten maka akan menjadi modal pembangunan, namun jika tidak kompeten akan menjadi beban pembangunan. Hal ini menjadi tantangan bagi Indonesia untuk menyiapkan generasi yang berkompeten, yang menyiapkan generasi berkompeten atau tidak kompeten adalah guru karena sumberdayanya ada di pendidikan. Untuk menyiapkannya berkompeten maka harus ada transformasi melalui pendidikan melalui kurikulum, PTK, manajemen. Cara mempersiapkan generasi emas 100 tahun Indonesia merdeka dimulaikan dari anak sekolah dasar. Perlu adanya pendidikan karakter, karena karakter akan menyiapkan generasi yang cerdas dan kompetitif, seperti Indonesia dream 2025.

Refleksi hasil TIMSS 2007 hanya 5% siswa Indonesia yang dapat mengerjakan soal-soal dalam kategori tinggi dan advance, sedangkan 71% siswa Korea sanggup. Dalam perspektif lain, 78% siswa Indonesia hanya dapat mengerjakan soal-soal dalam katagori rendah [hanya memerlukan knowing, atau hafalan]. Refleksi hasil PISA tahun 2009 hampir semua siswa Indonesia hanya menguasai pelajaran sampai level 3 saja, sementara negara lain banyak yang sampai level 4, 5, bahkan 6. Dengan keyakinan bahwa semua manusia diciptakan sama, interpretasi dari hasil ini hanya satu, yaitu: yang kita ajarkan berbeda dengan tuntutan zaman. Perlunya mengembangkan kurikulum, dan pembelajaran konstekstual perlu dikembangkan dalam pembelajaran, karena pembelajaran kontekstual menghubungkan pengetahuan siswa dengan kehidupan nyata.

Kerangka kompetensi abad 21, yaitu (1) kehidupan dan karir, (2) pembelajaran dan inovasi, (3) informasi, media dan teknologi. Kerangka ini menunjukkan bahwa pengetahuan saja tidak cukup, harus dilengkapi:  berkemampuan kreatif,  kritis dan berkarakter kuat serta kemampuan memanfaatkan informasi dan berkomunikasi. Pendidikan karakter sesuai dengan surat Al Ahzab 21: Sungguh telah ada pada diri Rasulullah SAW suri tauladan yang baik (insan kamiil) bagimu ……, dan surat Al Qolam 4: dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar memiliki akhlaq yang mulia…

Dream Indonesia 2025 adalah insan indonesia cerdas dan kompetitif, insan kamil/insan paripurna yang seperti:

  1. Cerdas spiritual (Olah Hati)

Beraktualisasi diri melalui olah hati/kalbu untuk menumbuhkan dan memperkuat keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia termasuk budi pekerti luhur dan kepribadian unggul.

  1. Cerdas emosional & social (Olah Rasa)

Beraktualisasi diri melalui olah rasa untuk meningkatkan sensitivitas dan apresiasivitas akan kehalusan dan keindahan seni dan budaya, serta kompetensi untuk mengekspresikannya. Beraktualisasi diri melalui interaksi sosial yang membina dan memupuk hubungan timbal balik, demokratis, empatik dan simpatik, menjunjung tinggi hak asasi manusia, ceria dan percaya diri, menghargai kebhinekaan dalam bermasyarakat dan bernegara, serta berwawasan kebangsaan dengan kesadaran akan hak dan kewajiban warga negara.

  1. Cerdas intelektual (Olah Pikir)

Beraktualisasi diri melalui olah pikir untuk memperoleh kompetensi dan kemandirian dalam ilmu pengetahuan dan teknologi serta aktualisasi insan intelektual yang kritis, kreatif dan imajinatif.

  1. Cerdas kinestetis (Olah Raga)

Beraktualisasi diri melalui olah raga untuk mewujudkan insan yang sehat, bugar, berdaya-tahan, sigap, terampil, dan trengginas, serta aktualisasi insan adiraga.

  1. Kompetitif

Berkepribadian unggul dan gandrung akan keunggulan, bersemangat juang tinggi, mandiri, pantang menyerah, pembangun dan pembina jejaring, bersahabat dengan perubahan, inovatif dan menjadi agen perubahan, produktif, sadar mutu, berorientasi global, dan pembelajar sepanjang hayat.

Secara nasional terdapat peningkatan persentase kelulusan dan hasil ujian nasional, terdapat penurunan angka putus sekolah dan mengulang kelas. Namun masih banyak celah kelemahan yang dapat diperbaiki melalui pendidikan karakter peserta didik dan penyelenggara sekolah. Kelemahan tersebut seperti kenakalan remaja, narkoba, pergaulan bebas, nasionalisme yang menurun, tidak memiliki identitas bangsa.

Kita harus membangun jati diri bangsa yang jujur, toleransi, gotong-royong, pekerja keras (tidak malas), budaya malu, setia, berani. Karena jati diri atau karakter ini menjadi modal dasar, untuk membangun bangsa. Indonesia sudah 70 tahun merdeka namun belum  mapan dalam hal jati dirinya dan bahkan kehilangan karakternya. Karakter negatif yg ditemui dalam keseharian seperti korupsi, politik uang, tidak jujur/ berbohong/ tidak menepati janji, malas/ budaya instan, tidak disiplin, pemeras/ tukang palak, penakut, tidak adil, premanisme. Beberapa hal yang salah dari kegiatan normal, seperti pembuatan sim yang cukup dengan membayar oknum petugas, pembuatan ktp juga dengan cara membayar oknum petugas, membuang sampah di jalan, melanggar rambu lalu lintas, suap menyuap utk menjadi pns atau apa saja, menegakkan kebenaran malah diusir.

Pendidikan di Indonesia langsung atau tidak langsung terjadi pendidikan korupsi atau diajarkan untuk tidak berkarakter. Hal ini disebabkan karena kemiskinan dan ketidak adilan adalah pangkal dari malapetaka, kesenjangan intelektual dan pendidikan, masyarakat yang sangat permisif, perbedaan antara nilai disekolah dan masyarakat, dan lemahnya pendidikan karakter disekolah dan dirumah, serta yang lebih menyedihkan perilaku negatif ditunjukan oleh para pemimpin bangsa.

Aspek yang perlu diperhatikan dan ditekankan dalam pembelajaran untuk mengatasi masalah tersebut adalah logika (olah pikir), kinestika (olah badan), etika (olah rasa: santun), estetika (olah rasa: indah). Mengembangkan 7 kecerdasan, yaitu: bahasa, ruang, music, logik-matematik, kinestik, intrapersonal, interpersonal. Selain itu ada tiga kecerdasan lagi, yaitu: nature smart adalah  pandai dan peka dalam mengamati alam,  existence smart adalah  pandai dan peka akan makna keberadaan manusia dalam hidup ini, dan spiritual smart adalah kecerdasan spiritual. Pendidikan karakter ada di satuan pendidikan dan masyarakat, untuk mengembangkan pendidikan karakter ini harus ada kesamaan antara pendidikan, orang tua dan masyarakat.

Pendidikan sebagai wahana pendidikan karakter yang komplit bisa terintegrasi, terkontrol, terkondisi dengan cara membangun Qolbu yang akan menggerakkan seluruh aktivitas. Cara membangun qolbu dengan cara latihan dan iklas, orang yang hebat namun qolbunya kering maka tidak berkrater dia akan suka menjelek-jelekan orang dan sombong. Pendidikan kita mesti memperluas qolbu, agar kita bisa respek terhadap orang.

Menghadapi MEA kuncinya adalah surat  Al-‘Alaq ayat 1 dan 19 yang artinya bacalah dengan (menyebut) nama tuhan-mu yang menciptakan (1), sekali-kali tidak! janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah serta dekatkanlah (dirimu kepada allah) (19). Pendidikan kita hanya menyuruh membaca saja, seharusnya membaca untuk bersujut dan untuk mendekati diri kepada tuhan. Sujud artinya merendahkan diri, merendahkan hati. Ilmuan yang baik adalah ilmuan yang tidak pernah menyalahkan ilmuan sebelumnya. Generasi yang kuat dalam segala keadaan adalah generasi yang terus membaca  dan bacaan itu untuk mendekatkan diri kepada Allah.


Catatan ini ditulis berdasarkan hasil silaturrahmi dan dialog bersama Himmpas dengan bapak Prof. Dr. Arg. Mohamad Amin, S.Pd., M.Si

 

Berbagi Informasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *