Saatnya Mengurai Benang Yang Kusut

Picture1Ustadz Bachtiar Nasir,   dalam dakwahnya mengatakan, “Hati orang yang beriman sekarang ini sedang bergelora dalam menyambut Ramadan dengan penuh iman. Tetapi orang yang tidak berbekal iman pada bulan suci nanti, maka ia hanya akan berhaus-haus dan berlapar ria. Maka bekal yang paling penting untuk dipersiapkan sekarang adalah keimanan”.

Keimanan ini merupakan hal yang paling fundamental yang melekat pada setiap umat Islam. Tiada kata yang paling esensi dari kata keimanan. Iman adalah penyelamat. Keimanan seseorang bagaikan akar yang kuat dan kokoh menjulang ke dalam bumi. Apa artinya sebuah pohon tanpa akar? Begitu juga, apalah artinya kehidupan kita tanpa dilandasi keimanan yang kokoh dalam jiwa?

Berbagai permasalahan menghampiri umat Islam. Jadikan Ramadan ini sebagai solusi dengan mengokohkan keimanan kita terhadap agama yang kita yakini. Pertanyaan selanjutnya bagaimana keimanan ini bisa mengakar kokoh dalam setiap jiwa? Tentu saja dibutuhkan ilmu untuk meraihnya. Karena iman dalam jiwa seseorang tidak akan hadir tanpa digapai dengan ilmu. Ilmu, iman dan amal merupakah tiga unsur yang tidak dapat dipisahkan. Seseorang untuk menggapai keimanan dibutuhkan ilmu, melalui belajar, membaca berbagai buku dan belajar mengikuti berbagai kajian. Begitu juga untuk membuktikan keimanan kita harus direalisasikan dalam sebuah “amal” yang nyata. Maka beramal semaksimal dan seoptimal mungkin di bulan Ramadan yang merupakan kesempatan emas bagi setiap muslim.

Saatnya mengurai benang yang kusut…

Setelah sebelas bulan diri dilumuri dosa, saatnya mensucikannya di bulan Ramadan, dengan melakukan berbagai aktivitas kebaikan. Antara lain, memperpanjang qiyaamul lail, memperbanyak membaca Al-Quran, mentadaburinya, dan selanjutnya untuk diamalkan. Jadikan di setiap waktu luang  ada Al-Quran untuk kita baca. Jadikan bulan yang penuh rahmat ini menjadikan kita tuk mendekat kepada Allah. Jadikan setiap langkah gerak kita bernilai kebaikan. Jadilah orang yang cerdas, setelah 11 bulan mengejar dunia, menjadikan satu bulan penuh hanya untuk akhirat yang menjadi orientasi hakiki umat Islam.  Jadikan di setiap nafas yang berhembus hanya  berdzikir dengan mengingat-Nya sepenuh jiwa.  Jadikan bulan ini sebagai pembuktian penghambaan kita kepada Illahi Robbi. Yakinlah bahwa Allahlah Sang Penggenggam hidup ini.

Ramadan sangat erat kaitannya dengan Al-Quran. Berinteraksi lebih intens dengan Al-Quran merupakan kunci menjadikan kita lebih dekat dengan Sang Illahi Robbi. Karena di bulan Ramadan ini, Al-Quran diturunkan. Begitu mulianya bulan ini, maka sungguh merugi jika Al-Quran yang menjadi pedoman hidup, kita abaikan begitu saja.  Pada bulan Ramadan ini saatnya kembali kepada Al-Quran. Karena Al-Quran merupakan warisan yang paling berharga yang tiada bandingannya. Dimana di dalamnya memuat semua ilmu, pedoman hidup dan hukum yang sudah ditetapkan. Sungguh merugi orang yang menjadikan Al-Quran sebagai pajangan penghias rumah tanpa membuka, membaca, mentadaburi dan mengamalkannnya dalam kehidupan sehari-hari.

Saatnya menghidupkan bulan penuh berkah ini dengan amaliyah bernilai di sisi Allah. Melaksanakan ibadah puasa tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi menahan hawa nafsu yang merupakan inti dari makna shaum. Entah bagaimana caranya hawa nafsu yang identik dengan  perbuatan yang mengikuti bisikan syaitan ini. kita kalahkan dengan pertahan diri. Tentunya dengan keimanan yang menjulang dan  mengakar dalam jiwa.

Selama 11 bulan lamun sibuk kita berjibaku dengan dunia. Semua waktu hanya berorientasi kepada dunia, saatnya di bulan Ramadan ini kita berikan seluruh waktu kita hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah semata. Saatnya di bulan Ramadan ini meningkatkan sadaqah. Semua hasil keringat tidak ada artinya tanpa mensucikannya dengan menafkahkannya di jalan-Nya. Tidak hanya berhenti di bulan Ramadan. Tetapi diikuti bulan-bulan berikutnya.

Satu lagi di bulan Ramadan ini. Allah mempersiapkan untuk umat Islam ini  Lailatul Qadar. Lailatul qadar hanya bisa digapai oleh orang-orang yang bersungguh untuk menggapainya.  Menjadi hamba yang terpilih mendapatkan lailatul qadar merupakan dambaan setiap muslim.  Sungguh merugi jika bulan yang penuh rahmat ini berlalu begitu saja tanpa menggapai keberkahan yang ada di dalamnya.

Ditulis oleh :

Siti Rokhmah, UIN Maliki Malang jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Editor :

Hikmatyar R.A , SKM, Universitas Diponegoro Magister Promosi Kesehatan

Berbagi Informasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *