Perwujudan Hak Anak Berkebutuhan Khusus Dalam Pendidikan Jasmani

oleh: Arifto Juniardi, S.Pd.

HIMMPAS UNJ, Pendidikan Olahraga, Mahasiswa Program Pascasarjana, Universitas Negeri Jakarta Angkatan 2014, Ariftojuniardi@gmail.com.


Kelahiran seorang Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) tidak mengenal apakah mereka berasal dari keluarga yang kaya, keluarga berpendidikan, keluarga miskin, keluarga yang taat beragama atau tidak. Bila Tuhan menghendaki keluarga itu dititipkan seorang ABK maka kemungkinan semua itu bisa terjadi. Akan tetapi Tuhan melihat dan menghargai manusia tidak dari kecacatannya secara fisik, mental atau sosial. Tuhan melihat manusia dari ketakwaan kepada Nya. Dititipkannya ABK pada satu keluarga bukan berarti keluarga tersebut mendapat kutukan, tetapi dititipkannya ABK pada satu keluarga karena Tuhan menguji atau memberi kesempatan pada keluarga tersebut untuk berbuat yang terbaik pada anaknya.

Sebagai manusia Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) memiliki hak untuk tumbuh dan berkembang di tengah-tengah keluarga, masyarakat, dan bangsa. Mereka memiki hak untuk sekolah sama seperti saudara lainnya yang tidak memiliki kelainan atau normal.  Sekolah Luar Biasa (SLB) dan Sekolah Dasar (SD) umum tidak ada satu alasan melarang ABK untuk masuk di sekolah tersebut. Bersama guru pembimbing khusus yang telah memiliki pengetahuan dan keterampilan Pendidikan Luar Biasa (PLB), sekolah dapat merancang pelayanan PLB bagi anak tersebut yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan anak. Apakah anak tersebut membutuhkan kelas khusus, program khusus dan atau layanan khusus tergantung dari tingkat kemampuan dan kondisi kecacatan anak.

Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab IV Pasal 5 Ayat 2 dikatakan bahwa warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional,  intelektual, dan atau sosial berhak mendapatkan pendidikan khusus dengan memdapatkan pendidikan khusus mereka dapat tumbuh dan berkembang dan dapat menguasai keterampilan-keterampilan gerak dasar motorik serta dapat mengopetasikan dan mengendalikan diri mereka.

 Konsep kelas khusus atau program khusus yang disebutkan diatas, kita kenal didalam konsep pendidikan inklusif. Pendidikan inklusif muncul dimaksudkan untuk memberi solusi atas adanya perlakuan diskriminatif dalam layanan pendidikan terutama bagi anak-anak penyandang cacat atau anak-anak yang berkebutuhan khusus. Selain landasan yuridis, landasan empiris juga menjadi landasan bagi gerakan menuju pendidikan inklusi di Indonesia landasan empiris yang dipakai dalam pelaksanaan pendidikan inklusif yaitu:

  1. Deklarasi Hak Asasi Manusia 1948 (Declaration of Human Rights).
  2. Konvensi Hak Anak 1989 (Convention of The Rights of Children).
  3. Konferensi Dunia Tentang Pendidikan untuk Semua 1990 (World Confrence on Education for All).
  4. Resolusi PBB nomor 48/96 Tahun 1993 Tentang Persamaan Kesempatan Bagi Orang Berkelainan (the standard rules on the equalization of opportunitites for person with dissabilities).
  5. Pernyataan Salamanca Tentang Pendidikan Inklusi 1994 (Salamanca Statement on Inclusive Education).
  6. Komitmen Dakar mengenai Pendidikan Untuk Semua 2000 (The Dakar Commitment on Education for All).
  7. Deklarasi Bandung 2004 dengan komitmen “Indonesia Menuju Pendidikan Inklusif”.
  8. Rekomendasi Bukit Tinggi 2005 mengenai pendidikan yang inklusif dan ramah.

Landasan empiris diatas menjadi landasan bagi gerakan menuju pendidikan inklusi di Indonesia. Dalam konteks pelayanan pendidikan inklusi pada pelajaran pendidikan jasmani, ABK sangat berhak atas pendidikan jasmani yang dapat mengakomodasi hambatan dan kebutuhan yang mereka miliki. Menurut Supandi dalam Husdarta  mengemukakan bahwa: “Pendidikan jasmani ialah pendidikan yang  menggunakan aktivitas fisik atau tubuh sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan melalui aktivitas-aktivitas jasmani” seorang guru harus mampu untuk mendesain bagaimana proses pembelajaran bisa dilaksanakan dan mencapai tujuan pendidikan. (H.J.S Husdarta, 2011) Oleh karena itu, dalam pembelajaran pendidikan jasmani guru dituntut untuk lebih kreatif agar mampu mendesain bagaimana proses pembelajaran agar semua kebutuhan gerak anak dapat terpenuhi dan dapat meningkatkan potensi yang dimilikinya secara optimal.

Anak berkebutuhan khusus membutuhkan pendidikan jasmani yang lebih besar daripada siswa normal, hal ini disebabkan karena ABK mengalami hambatan dalam merespon stimulus yang diberikan lingkungan untuk melakukan gerak, meniru gerak, dan bahkan ada yang memang fisiknya terganggu sehingga ia tidak dapat melakukan gerakan yang terarah dengan benar. Selain itu, mereka memiliki masalah dalam sensoris, motorik, belajar, dan tingkah lakunya yang dapat menghambat perkembangan fisik siswa tersebut.

  Apabila program pembelajaran yang diberikan oleh guru tidak berorientasi kepada kebutuhan dan hambatan ABK, dikhawatirkan perkembangan fisik ABK tidak berkembang dengan baik dan bahkan bisa saja menjadi masalah baru baginya pendidikan jasmani seperti yang dijelaskan diatas disebut dengan pendidikan jasmani adaptif. The Individual with Disabilities Education Act (IDEA) salah satu hukum federal di Amerika, sudah secara gamblang memastikan semua anak berkebutuhan khusus (ABK) mendapatkan layanan pendidikan terbaik dan gratis. IDEA berpendapat bahwa anak-anak yang harus mendapatkan layanan pendidikan jasmani adaptif (Andrew M.I. Lee, 2014) ialah:

  1. Autism
  2. Deaf-blindness
  3. Deafness
  4. Emotional disturbance
  5. Hearing impairment
  6. Intellectual disability
  7. Multiple disabilities
  8. Orthopedic impairment
  9. Other health impairment (including ADHD)
  10. Specific learning disability (including dyslexia, dyscalculia anddysgraphia, among others)
  11. Speech or language impairment
  12. Traumatic brain injury
  13. Visual impairment, including blindness

Dari ketiga belas kondisi anak yang harus mendapatkan layanan pengembangan pendidikan jasmani adaptif untuk ABK di indonesia tampaknya butuh perhatian yang ekstra untuk memastikan semua anak berkebutuhan khusus (ABK) mendapatkan layanan pendidikan terbaik. Saat ini permasalahan timbul tatkala pembelajaran guru merasa tidak mampu intensif dalam memperhatikan tiap siswa berkebutuhan khusus. Guru tidak dapat memperhatikan siswa berkebutuhan khusus secara maksimal, karena banyak siswa lain dalam pembelajaran yang harus diperhatikan juga. Jika guru hanya memperhatikan satu atau dua siswa saja dikhawatirkan pembelajaran tidak akan berjalan karena sifat dari siswa sekolah dasar yang tidak sabar dan masih kurang toleransi ditakutkan siswa normal akan merasa pembelajaran kurang cepat dan kurang menarik. Permasalahan ini hanya sebagai contoh kecil yang terjadi terhadap ABK dalam mengikuti pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah. Belum lagi permasalahan sarana dan prasarana penunjang yang selalu menjadi kambing hitam terhadap permasalahan pendidikan di indonesia.

Oleh karena itu perlu adanya upaya-upaya revitalisasi di bidang ini. Sebagaimana yang dilansir oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, jumlah anak berkebutuhan khusus yang berhasil di data ada sekitar 1,5 juta jiwa. Namun secara umum, PBB memperkirakan bahwa paling sedikit ada 10 persen anak usia sekolah yang memiliki kebutuhan khusus. Di Indonesia, jumlah anak usia sekolah, yaitu 5-14 tahun, ada sebanyak 42,8 juta jiwa. Jika mengikuti perkiraan tersebut, maka diperkirakan ada kurang lebih 4,2 juta anak Indonesia yang berkebutuhan khusus. (Putro Agus Harnowo, 2013)

Dalam hal ini tak ada salahnya bila mahasiswa olahraga atau para relawan untuk memaksimalkan peran kritisnya menyalurkan gagasan dalam mewujudkan hak anak berkebutuhan khusus akan pendidikan jasmani ke berbagai pihak. Baik itu kepada tim ahli pengembangan kurikulum, tim perancang pelayanan pendidikan luar biasa di sekolah, perhimpunan disabilitas, dinas pendidikan seksi kurikulum pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus dan pihak-pihak lainnya. Tidaklah berlebihan apabila hal ini dijadikan sebagai suatu gerakan masif bagi pihak yang ingin peduli terhadap pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus. Sebagai seorang mahasiswa pascasarjana revitalisasi yang seperti apa yang dibutuhkan dalam mengembangkan gagasan perwujudan hak pendidikan jasmani untuk ABK?

Ada beberapa hal yang secara implementatif bisa menjadi bahan rujukan semua pihak dalam mewujudkan hak ABK dalam pendidikan jasmani di suatu lembaga atau institusi pendidikan:

  1. Mahasiswa bergerak melalui pembuatan komunitas peduli ABK yang terkonsentrasi pada paedagogik ABK.
  2. IMORI (Ikatan Mahasiswa Olahraga Indonesia) dapat memperlombakan gagasan paper tentang perwujudan hak ABK dalam pendidikan jasmani.
  3. Pembuatan lisensi pendidik khusus ABK oleh ISORI (Ikatan Sarjana Olahraga Indonesia/Organisasi Lainnya) yang keberadaan lisensi itu akan menunjang nilai jual guru. Sehingga dapat meningkatkan profesionalitas guru.
  4. Penyediaan peralatan dan perlengkapan olahraga khusus setiap ABK sesuai dengan karakteristik setiap ABK.
  5. Guru aktif melakukan expert judgment kepada dokter dan psikolog atas desain Pra-Inti-Pasca pelaksanaan pembelajaran fisik.
  6. Adanya penghargaan yang sama dari atlet yang berprestasi di POPCANAS (Pekan Olahraga Pelajar Cacat Nasional) seperti beasiswa, jalur khusus masuk kuliah dan sebagainya. Sehingga akan memotivasi siswa untuk berprestasi.
  7. Memperbanyak workshop/seminar modifikasi penjas adaptif untuk para dosen guru dan calon guru penjas.
  8. Guru penjas hendaknya membuka layanan konseling olahraga di sekolah bagi orangtua dan peserta didik.
  9. Membuka penjadwalan kegiatan ekstrakurikuler seperti yang dirasakan oleh anak-anak normal pada umumnya.
  10. Adanya kerjasama yang periodik antara pendidik (guru/dosen olahraga) dengan dokter dalam proses perkembangan anak.
  11. Sekolah harus mempersiapkan psikolog/psikiater bagi orangtua dan peserta didik sebagai upaya pembimbingan berkelanjutan.
  12. Pemerataan pengalokasian jumlah guru penjas di sekolah umum, sekolah inklusi, dan sekolah luar biasa.
  13. Penguatan peran LPTK dan LPMP terhadap profesionalitas guru dan penjaminan mutu pendidikan bagi ABK.

Sebagai kesimpulan, Stereotip dan perilaku dari masyarakat harus berubah dalam menghadapi disabilitas. Anak-anak berkebutuhan khusus dapat belajar, menikmati hidup, mampu mandiri, dan berkembang sesuai potensinya, tentu harus melalui pemberian berbagai layanan, diantaranya melalui layanan pendidikan, olahraga, maupun bimbingan konseling.

Anak-anak berkebutuhan khusus adalah individu yang unik. Mereka juga mempunyai hak untuk tumbuh dan berkembang sebagaimana anak-anak lainnya dan memiliki kebutuhan dasar yang sama. Ini merupakan tantangan bagi para pendidik, khususnya guru pendidikan jasmani untuk berkolaborasi memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak yang berkebutuhan khusus. Sehingga hak berolahraga atau hak mengenyam pendidikan jasmani lebih terasa menyenangkan dan variatif. Sebagaimana yang diajarkan didalam firman Al Qur’an kita tidak boleh membedakan antara individu yang satu dengan yang lainnya atas dasar penilaian fisik, seperti yang tercantum dalam QS An-Nur ayat 61 yang artinya:

”Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, makan (bersama-sama mereka) dirumah kamu sendiri atau dirumah bapak-bapakmu, di rumah ibu-ibumu, di rumah saudara-saudaramu yang laki-laki, di rumah saudaramu yang perempuan, di rumah saudara bapakmu yang laki-laki, dirumah saudara bapakmu yang perempuan, dirumah saudara ibumu yang laki-laki, di rumah saudara ibumu yang perempuan, di rumah yang kamu miliki kuncinya atau di rumah kawan-kawanmu. Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendirian. Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya.”

Dari ayat diatas begitulah Islam sangat memuliakan manusia sekalipun yang cacat, karena Allah SWT maha adil. Islam tidak pernah menganggap rendah anak berkebutuhan khusus. Mungkin bisa jadi mereka lebih mulia kedudukannya dihadapan Allah dari pada manusia normal pada umumnya. Untuk itu seorang muslim terutama orang tua hendaklah melihat pada keistimewaanya sebagai anugerah Allah SWT.

Berbagi Informasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *