Mengenal Nama dan Sifat Allah

Ringkasan Kajian Rutin Kamis Sore (Kantin Kamso)  I  Mengenal Nama dan Sifat Allah subhanahu wa ta’ala

Pemateri Ustaz H.M.Sulkhan Zainuri, Lc.MA

Himpunan Mahasiswa Muslim Pascasarjana (Himmpas) UGM

Edisi Kamis, 4 April 2017


Tentang nama-nama Allah subhanahu wa ta’ala, termaktub dalam QS. Al-Israa ayat 110 “Katakanlah: ‘Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik)...”

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman dalam QS. Al-A’raaf ayat 180 “Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”

Berikut ini adalah poin-poin pemahaman tentang nama dan sifat Allah subhanahu wa ta’ala:

  1. Dari dua ayat tersebut di atas dapat dipahami bahwa Allah subhanahu wa ta’ala sangat menyukai, jika kita sebagai hamba menyebut-Nya dengan nama-nama-Nya dan hal yang mensifati-Nya. Tentulah, masing-masing nama Allah subhanahu wa ta’ala tersebut memiliki spesifikasi yang berbeda dengan makhluk-Nya. Seperti yang kita ketahui, Allah subhanahu wa ta’ala memiliki asma-asma yang indah. Ada 99 asma Allah dan 20 sifat Allah subhanahu wa ta’ala.
  2. Penyebutan sifat merupakan bagian dari pengagungan. Seperti halnya Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam menjuluki Abu Bakr dengan Ash-Shiddiq yang berarti “dia yang jujur dan membenarkan”, Ash-Shiddiq ini adalah penggambaran kehormatan sang Nabiyullah untuk Abu Bakr radhiyallahu’anhu.
  3. Jika seseorang sudah melafazkan Lailahaillallah yang artinya tidak ada Tuhan (yang berhak untuk diibadahi) selain Allah subhanahu wa ta’ala, maka ia sudah sepenuhnya menyerahkan diri dan kehidupannya pada Allah subhanahu wa ta’ala dengan segala konsekuensinya. Itulah iman.
  4. Allah subhanahu wa ta’ala telah menciptakan langit dan bumi serta mengatur apa-apa saja yang ada pada keduanya (Qs. Ali Imran ayat 190-191). Allah subhanahu wa ta’ala yang mengatur peredaran bulan dan bintang agar tetap berada pada garis edarnya (Qs. Yaasin ayat 37-40). Allah yang menumbuhkan apa-apa yang ada di bumi (Qs. Al-An’am ayat 99). Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan langit dan bumi berlapis-lapis (Qs. Al Mulk ayat 3). Tentulah itu semua adalah kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala, dan hanya Dia yang mampu berbuat demikian.
  5. Mari kita lihat kembali firman Allah subhanahu wa ta’ala di atas (Qs. Al Israa ayat 110 dan Qs Al-A’raf ayat 180), nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya sesuai dengan tema-tema yang diturunkan Allah ta’ala kepada Rasul-Nya dalam Al-Quran. Kita sebagai hamba, harus meyakini dengan sepenuh hati gambaran tersebut tanpa perlu bersusah payah menginterpretasikan nama dan sifat-Nya, karena kita tidak akan pernah mampu. Maksudnya adalah:

Sifat Allah subhanahu wa ta’ala jelas berbeda dengan sifat makhluk. Misalnya, Maha Mengetahui, mengetahui-Nya pastilah berbeda dengan sifat mengetahui yang melekat pada manusia. Dia mengetahui segala apa yang ada langit dan bumi, sedangkan makhluk sangat terbatas dalam hal demikian; Allah subhanahu wa ta’ala Maha Melihat, luasan melihat-Nya juga tidak dapat ditandingi makhluk; Allah subhanahu wa ta’ala Maha Mendengar, maka mendengar-Nya, tentulah berbeda dengan cara mendengar makhluk. Dan sifat lain-lain yang tidak mungkin satupun makhluk menyerupai-Nya.


  1. Kewajiban manusia sebagai makhluk adalah:
  • Mengimani segala nama-nama Allah subhanahu wa ta’ala yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tidak perlu membedakan nama-nama-Nya. Meyakini dengan apa adanya, tanpa berusaha menginterpretasikannya, karena yakinlah, nalar kita tidak akan mampu. Misalnya, tentang Al-‘Arsy, dimana? Bagaimana bisa kesana?
  • Mensucikan Allah subhanahu wa ta’ala dari penyerupaan dengan makhluk, sebagaimana firman-Nya: .. Laisa Kamitslihi Syai-un .. (QS. as-Syura: 11) yang berarti “tiadalah Dia menyerupai sesuatu apapun (tiada pula sesuatu apapun yang menyerupai-Nya)”.
  • Mempelajari ciptaan-Nya untuk memahami keagungan-Nya. Bukan mempelajari dzat-Nya. Beberapa pertanyaan yang mungkin pernah ada dibenak kita, yaitu “Bagaimana wujud Allah?“, “Bagaimana wajah Allah?” dan lain-lain yang sejenis sementara akal tidak mampu menjawabnya. Pertanyaan-pertanyaan itu semua akan sulit dijabarkan. Allah ta’ala berfirman “laa tudrikhul abshar wahuwa yudrikhul abshar .. (Qs Al-An-‘am ayat 103) yang artinya “Dia tidaklah mampu dijangkau oleh pandangan penglihatan, dan Dia mampu memandang setiap penglihatan”. Bahkan ketika Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam melakukan Isra’ Mi’raj pun, Allah subhanahu wa ta’ala tidak menunjukkan wujud-Nya. Maka kapan manusia mampu melihat Allah? Jawabannya adalah ketika di “Hari Akhir”. Hari tersebut digambarkan seperti indahnya malam bulan purnama. Pada Qs Al Muthaffifin ayat 15 Allah ta’ala berfirman”Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhannya”. Berkata Imam asy-Syafi’i dalam Tafsir Ibnu Katsir bahwa bahwa “Di dalam ayat ini terdapat dalil bahwa orang-orang beriman melihat Allah pada Hari Kiamat.“
  • Kita tidak berusaha menginterpretasikan sifat-sifat Allah subhanahu wa ta’ala. Tugas kita hanya mengimani dan mengikuti, tanpa mencari tau, cukup percaya. Pada Qs Al-Baqarah ayat 216 Allah berfirman, Allah mengetahui sedang kamu (manusia) tidak mengetahui”“. Ya,  kita tidak akan mampu menggapainya. Lalu, ada yang mengatakan Allah subhanahu wa ta’ala itu sadis, Dia berfirman: ..boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu.. (Qs Al Baqarah ayat 216). Sudah sepatutnya kita berhati-hati agar tidak melanggar larangan-Nya agar supaya hukuman-Nya baik di dunia maupun di akhirat tidak mengenai kita semua.

Demikian, semoga ringkasan kajian kamis sore ini bermanfaat.  Wallahu a’lam bisshawab.


Kontributor: Erma Suryani

Berbagi Informasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *