Bangga Menjadi Muslim Pewaris Peradaban

Refleksi Kantin Kamso Episode ke-3


Oleh: Mahyuddin (Staff  PPSDM Himmpas UGM)

 

Di tengah glamornya kehidupan modern, tidak bisa dipungkiri bahwa nilai-nilai agama dalam diri seseorang kian terkikis. Modernisasi yang mengantarkan perubahan besar dalam sendi-sendi perikehidupan kita telah meninabobokan umat manusia, sehingga banyak diantara manusia hari ini mulai mengabaikan perihal pentingnya peran agama dalam kehidupan. Tak pelak, identitas keagamaan seseorang mulai surut dari arena kehidupan sosialnya seiring dengan perubahan yang mewarnai kehidupan manusia.

Maka, tak heran ketika kita sering mendapatkan saudara-saudara kita – semoga Allah memberikan petunjuk kepada mereka – yang tidak berbangga dengan agamanya yaitu tidak merasa gagah ataupun cantik karena keutamaan dan keunggulan Islam (Buletin Al Hikmah). Sehingga tidak sedikit diantara kita yang mengaku Muslim tetapi pada tataran praktik kita masih merasa minder ketika mencoba mempratikkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan kita. Ironisnya, banyak juga diantara kita yang lebih berbangga mengikuti budaya-budaya agama lain ketimbang berbangga dengan identitas budaya diri sendiri sebagai seorang Muslim. Padahal, bilamana kita menyelami keutamaan-keutamaan yang terkandung dalam Islam, tentu kita akan merasa bangga dan bersyukur karenanya.

Namun, terlepas dari persoalan di atas tentu kita tidak boleh putus harapan atas kondisi demikian. Karena, masih banyak juga diantara kelompok Muslim, termasuk diantara kita yang masih memiliki kesadaran keagamaan yang termanifestasikan dalam semangat mempelajari ilmu-ilmu agama Islam dan saling mengajak dalam kebaikan. Ini membuktikan bahwa dalam diri kita masih terajut rasa bangga menjadi seorang Muslim.

Tentu ekspektasi terbesar yang ingin diperoleh dari mempelajari nilai-nilai Islam tersebut ialah bagaimana mengupayakan untuk menjadi pribadi Muslim yang baik sehingga kedepannya kita menjadi bagian dari pencipta perubahan, pengukir peradaban umat serta menjadi garda terdepan dalam kebaikan. Karena, nilai-nilai kemanusiaan kita akan lebih sempurna bilamana peradaban-peradaban umat manusia terlahir dari seorang pemimpin yang baik dan benar.

Kita terlahir di permukaan bumi dengan segala kelebihan dan kesempurnaan yang diberikan oleh Allah sudah selayaknya kita manfaatkan dengan sungguh-sungguh untuk terus belajar dan berbenah diri sesuai dengan Manhaj al-Islam (kaidah-kaidah agama). Karena bagaimanapun, sudah menjadi sunnatullah dalam menjalin kehidupan sosial, kita akan mendapati sekelompok orang yang senantiasa menggiring kita ke arah keburukan, kebathilan bahkan perbuatan yang mengarah pada kehancuran. Untuk itu, tugas kita sebagai seorang Muslim dan Muslimah ialah menjadi aktor sosial pengendali peradaban umat, pelopor saudara-saudara kita agar lebih dekat pada Rabbnya serta berupaya mencegah segala kemunkaran-kemunkaran yang ada di lingkungan sosial kita.

Ingatlah bahwa ajaran Islam dengan segala kesempurnaan yang dikandungnya telah menyediakan berbagai jawaban atas permasalahan sosial yang kian akut hari ini. Terjadinya dekadensi moral, tatanan sosial yang kian jauh dari nilai-nilai agama, akan dapat kita selesaikan dengan baik apabila kita mampu menjadikan peran-peran sosial kita dengan baik dengan senantiasa bersandar pada kaidah agama Islam. Satu hal yang perlu dipahami ialah tujuan penciptaan manusia bukan melulu menjadi khalifah yang baik ataupun melakukan peribadatan kepada-Nya, tetapi diantara  tujuan dari penciptaan kita ialah menjadi sosok yang mampu memakmurkan bumi, dengan kata lain kita mampu memberi faedah dan menebar kebaikan terhadap orang lain dimanapun kita berada, tak terbatas oleh ruang dan waktu.

Semoga uraian singkat ini dapat menambah rasa syukur kita kepada Allah Ta’ala atas nikmat Islam ini, tetap istiqomah di atas jalan-Nya, dan meninggalkan jalan-jalan selainnya. Amin.

Berbagi Informasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *