Tahapan Belajar

Oleh: Akhmad Arwyn I.R (Pengurus Himmpas UGM 2017)


Tatkala kita melihat proses pendidikan di PAUD, TK, SD dan seterusnya, seorang mahasiswa tidak akan pernah berkata tentang proses pendidikan itu: “Ah itu tidak penting”, “Pendidikan macam apa itu kok cuma diajari begitu saja”, atau berkata ke anak didik: “Masa hal seperti itu saja tidak bisa sih”, “Ampun, dari tadi dijelaskan kok ga paham-paham”, dan hal semisalnya. Mengapa hal itu terjadi? Karena secara otomatis sang mahasiswa faham bahwa level berpikir seseorang berkembang secara bertahap, dan masing-masing jenjang pendidikan merupakan tahap-tahap berkembangnya pikiran sehingga proses pendidikan dan pembelajaran disesuaikan dengan kesiapan berpikir anak. Hal itu dapat difahami oleh sang mahasiswa dan terjadi secara otomatis karena jenjang pendidikan anak tersebut selaras dengan pertambahan umurnya.

Proses pemahaman dan pembelajaran agama juga mengikuti pola tahapan pemahaman yang terinternalisasi dalam tubuh peserta didik secara bertahap. Hanya yang membedakan, terkadang proses pemahaman ini tidak selaras dengan umur peserta didik keagamaan. Ada yang usia biologisnya 30 tahun namun pemahaman keagamaan nya masih setara usia 10 tahun, dan lain sebagainya, hal ini wajar karena proses belajar agama masing-masing individu berbeda-beda. Kita yang mungkin dilahirkan sejak kecil menjadi seorang Muslim patut bersyukur karena tahap pembelajaran keagamaan kita biasanya ditanamkan orang tua atau guru sejak kecil. Namun berbeda jika tumbuhnya semangat belajar agama ini baru ada ketika ia sudah berusia dewasa. Seorang mahasiswa yang baru tumbuh keinginan belajar Islamnya harus dihadapkan pada kebutuhan belajar Islam yang canggih karena tantangan pemikiran yang meggerus agamanya berseliweran dengan cepat tanpa ia mampu mengunyah dengan benar. Terkadang, tantangan itu juga muncul dari rekan dan saudara Muslimnya yang sudah pada tahap pemahaman agama yang tinggi, dengan kata-kata setipe seperti di atas: “Ah itu tidak penting, itu kan gampang”, “Pendidikan agama macam apa itu kok cuma diajari begitu saja”, atau berkata ke teman yang baru belajar agama ini: “Masa hal seperti itu saja tidak paham sih”, “Ampun, masa hal dasar seperti itu harus dijelaskan berkali-kali sih”, dan hal semisalnya.

Dalam hal ini sang mahasiswa tidak langsung memahami, bahwa belajar itu membutuhkan proses, dan itu terkadang tidak bisa cepat, tergantung pada daya cerna dari masing-masing peserta didik. Mahasiswa menjadi tidak langsung memahami karena proses pembelajaran agama yang sedang berjalan untuk rekan-rekan mahasiswanya ini tidak selaju dengan usia biologisnya. Ia memandang orang lain dengan standar dirinya: “Harusnya, namanya mahasiswa itu hal seperti itu sudah selesai”, “Ya Allah, yang dipelajari kok dangkal sekali”, atau seringkali menyalahkan panitia kajian yang menyediakan panggung ilmu: “Kajian seperti itu mah levelnya anak SMA”, “Materi kajiannya yang agak berat dikit dong, masa hal-hal sepele kayak gitu diulang-ulang terus”, dan hal yang semacamnya. Sang mahasiswa tidak memahami bahwa bisa jadi obyek dakwahnya memang masih taraf SMA dalam sisi pemahaman keagamaannya, atau malah lebih rendah lagi. Mahasiswa itu lupa, bahwa masih banyak yang belum selevel dirinya dan banyak yang masih membutuhkan tema kajian tersebut. Mahasiswa itu silap, bahwa jika ia memang sudah memahami materi itu dengan baik, masih banyak ilmu yang belum ia peroleh dan telah disediakan panggung ilmu untuk dirinya di tempat lain yang ia bisa langsung kesana tanpa harus mencibir level pendidikan di bawahnya. Mahasiswa itu mungkin belum sadar, bahwa memang sekarang bukan lagi waktunya ia hanya datang sebatas pendengar kajian disana sini saja, namun ternyata ia sudah naik level sebagai pihak yang harus menyediakan panggung belajar buat “adik-adik” nya atau bahkan ialah yang harusnya mengisinya.

Berbagi Informasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *