Hakikat Perjuangan

oleh: Pradeka Brilyan P (Kepala Departemen Keilmuan Himmpas IPB 2016)


Rizqi adalah ketetapan, hasil adalah kepastian. Cara menjemputnya adalah ujian, ujian yang menetukan rasa kehidupan. Tugas kita adalah menyempurnakan ikhtiar memperolehnya

 

Terkadang atau terlebih sering kita pasti dihadapkan pada situasi yang sulit. Salah satunya, ketika sedang berjuang dalam menuntut ilmu. Mulai berpikir pesimis untuk memperoleh hasil positif atau bahkan menghalalkan segala cara untuk memperoleh hasil positif? Sebelum berusaha kita sudah berprasangka. Pantaskah?

Hajar ibunda kita mengajarkan bahwa bagaimana memaknai sebuah perjuangan.

Telah terpanggang keduanya di atas pasir membara dan mentari Lembah Bakkah yang seakan dekatnya hanya sehasta. Telah habis airnya dan telah kering air susunya. Telah jerih hatinya dengan tangis lapar dan haus bayinya, hingga sakit dan lelah yang ada di tubuhnya sendiri tak lagi dirasa.

Telah dengan sia-sia tenaga dia berlarian antara Shafa dan Marwah, menyipitkan mata memandang jauh. Kadang melihat ke seberang ufuk adakah yang dapat dimintai bantu. Kadang menatap ke bawah adakah jejak air untuk dikasi-kais rembesannya. Telah dengan amat gigih dia berbolak-balik tujuh kali di lintasan yang sama, dengan keyakinan yang tak cuil bahwa Allah takkan menyia-nyiakan iman dan amalnya.

Tapi mata air itu sama sekali tak diterbitkan Allah di jejak-jejak yang telah ditempuhnya.

Setelah menyempurnakan laluan ketujuhnya, antara percaya dan tidak sebab pandangannya telah kabur oleh debu pasir yang dilengketkan air mata, dia lihat sebentuk kilau di dekat Ismail. “Diam!” ujarnya pada diri sendiri dan degub di dadanya yang berdentam. Telinganya yang ditajamkan mendengar gemericik. Dan disanalah sang Ruhul Amin, Jibril ‘alaihis salam menyigi pasir dengan sayapnya.

Dengan langkah yang tak lagi tegak, bergegas dia menuju bayinya. Kaki kiri dan kanannya seakan berlomba, membuat dia terlonjak dan tersaruk, lalu terjerembab berulang kali dengan lutut tertekuk. Namun hatinya melayang dan nuraninya terbang. Namun jiwanya menghambur dan dadanya berdebur.

Karunia Allah itu datang, dari jalan yang tak disangka-sangka, di tempat yang tak diduga-duga. Mata air bergericik di kaki Ismail, dan Hajar mengorek serta membendungnya agar air itu tidak hilang meresap kembali. Demikian antara lain keterangan Imam Badruddin Al-‘Aini dalam ‘Umdatul Qari.

Beginilah sejatinya hakikat sebuah perjuangan “Setelah mengihsankan amal dan menyempurnakan ikhtiar, serahkan hal selanjutnya pada Allah dengan sepenuh iman. Dia lebih tau dimana tempat terbaik, kapan saat terbaik, dan bagaimana cara terbaik”.

Itulah hakikat perjuangan, kenikmatan dan keindahan ada pada prosesnya. Karena cara menjemputnya adalah ujian. Ujian yang menentukan rasa. Sedari itu hasil bukan wilayah kita, cukuplah Allah yang mengaturnya.

 

 

 

Berbagi Informasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *