Akhirnya Agama Hapus Saja

Oleh Buya Hamka[1]


«يَدْرُسُ الإِسْلاَمُ كَمَا يَدْرُسُ وَشْيُ الثَّوْبِ، حَتَّى لاَ يُدْرَى مَا صِيَامٌ وَلاَ صَلاَةٌ وَلاَ نُسُكٌ وَلاَ صَدَقَةٌ، وَلَيُسْرَى عَلَى كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي لَيْلَةٍ، فَلاَ يَبْقَى فِي الأَرْضِ مِنْهُ آيَةٌ، وَتَبْقَى طَوَائِفُ مِنَ  النَّاسِ: الشَّيْخُ الكَبِيرُ، وَالعَجُوزُ، يَقُولُونَ: أَدْرَكْنَا آبَاءَنَا عَلَى هَذِهِ الكَلِمَةِ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، فَنَحْنُ نَقُولُهَا». فقال له صِلَةُ: ما تغني عنهم «لا إله إلاَّ اللهُ» وهم لا يدرون ما صلاة ولا صيام ولا نسك ولا صدقة؟

Sebuah hadits dari Sahabat Rasulullah SAW, Huzaifah bin Al-Yaman berkata dia mendengar Rasulullah bersabda, “Akan hapus Islam sebagaimana hapusnya ragi kain, sehingga tidak diketahui orang lagi apa itu puasa, apa itu shalat, apa itu ibadah haji, apa itu shadaqah-zakat. Maka terbanglah kitab Allah pada suatu malam, sehingga tidak meninggalkan di muka bumi agak satu ayatpun. Dan tinggallah sekelompok manusia, orang-orang tua dan lemah, mereka berkata, “Kami telah mendapati nenek moyang kami dengan kalimat ini: “La ilaha illalLah”. Dan mereka itupun tidak mengerti lagi apa itu shalat dan tidak berpuasa dan tidak bershadaqah, dan tidak mengerjakan haji”. (Hadits ini dirawikan oleh Ibnu Majah)[2].

Maksud dan arti yang terkandung di dalam hadits ini tidaklah terlalu “tinggi”. Isinya ialah bahwa agama Islam itu pada suatu masyarakat bisa saja hilang, laksana kain kehilangan ragi, tak ada warnanya lagi, telah lusuh dan tua.

1400 tahun yang lalu, ketika Rasulullah SAW masih hidup, baginda telah memperingatkan ini kepada kita. Yaitu, bahwa agama bisa saja habis tinggal kerangka. Segala corak yang menentukan “kepribadian” agama itu bisa hilang kikis, jilat hapus, hingga yang tinggal hanya barang lapuk.

Dan sejarah Islam selama 14 abad telah membuktikan apa yang telah dibayangkan oleh Rasulullah SAW dan disampaikan oleh sahabat beliau Huzaifah ini. Satu negeri yang tujuh abad lamanya menjadi negeri Islam, berdiri pemerintahan dan kerajaan Islam, berdiri masjid-masjid megah dan kebudayaan yang tinggi, sekarang habis licin tandas.  Itulah Spanyol yang di dalam sejarah Islam disebut Andalusia. Kalau kita melawat ke negeri itu di zaman kini, yang kita dapati hanya sisa bekas, yaitu bekas masjid yang telah dijadikan gereja. Menara tempat azan yang telah dijadikan tempat menggantung lonceng. Kita kagum melihat begitu tinggi mutu seni dan budaya yang pernah di tinggalkan oleh umat Islam ketika mereka memakmurkan negeri itu.

Dan kita hanya bertemu nama orang-orang besar Andalus-Islam dalam kitab-kitab yang mereka karang dan mereka tinggalkan, seperti Ibnu Hazm dalam fiqh, Ibnu Arabi dalam tasawuf, AI Qurthubi dalam tafsir. Dan jika kita datang ke sana sekarang, tidak ada seorangpun yang akan kenal nama-nama itu. Sebab penduduk telah berganti dari Islam kepada Katholik. Dan kalau kita masih berminat juga, cobalah cari batu-batu nisan di kubur pusara lama, mungkin di sana masih ada bekasnya.

Dan ahli sejarah mengatakan bahwasanya kejatuhan kaum muslimin di negeri itu, bukanlah datangnya dengan tiba-tiba. Bahkan satu abad sebelum mereka diusir habis dari negeri itu, ahli-ahli fikir telah memberi ingat bahwa mereka dalam bahaya. Sebab yang mereka pentingkan bukan lagi Islam itu sendiri, melainkan kemuliaan dan kemenangan untuk diri sendiri.

Dari satu kerajaan besar Bani Umayyah, mereka berpecah menjadi raja-raja kecil (Mulukut Thawa’if), sehingga tiap kota mempunyai raja sendiri dengan gelar kebesaran sendiri pula, Sehingga mudah saja orang mengadu-domba dan kemudian menghancurkan semua!

Di Spanyol atau Andalusia itu sekarang habis semua, La ilaha illalLah (Tiada Tuhan melainkan Allah) itupun habis, yang tinggal hanyalah lukisan atau kaligrafi ayat Qur’an, di dinding istana Al-Hambra, yang penghuni kota Granada sendiri tidak ada yang pandai membaca kalimat, “Laa Ghaliba IllalLah” (Tidak yang Menang, melainkan Allah).

Ya, yang menang hanya Allah. Kaum muslimin sendiripun jika telah meninggalkan Allah, pasti kalah juga!

Adapun di zaman modern ini yang terkenal adalah usaha sistematis dalam menghapuskan Islam terjadi di Soviet-Rusia. Pemerintah Komunis yang menentang segala agama itu menumpahkan segala tenaga buat menghapuskan Islam di negeri-negeri Islam yang telah dijajahnya. Dan sekarang, kalau kita pergi ke negeri-negeri itu, yang kita dapati lagi ialah “orang-orang tua dan lemah”. ltulah yang masih tinggal mengerjakan shalat dan puasa. Adapun yang muda-muda telah dikerahkan masuk pabrik-pabrik, sambil dipompakan pikirannya dengan ajaran yang sangat jauh dari agama, malahan menantang segala kepercayaan kepada yang ghaib.

Sebentar lagi jika orang datang ke negeri itu, orang-orang tua dan lemah itu satu demi satu tentu telah hilang, kembali ke alam baka. Anak-anaknya pula yang menggantikan jadi orangtua. Mereka akan mengatakan bahwa mereka maslh mendapati ayah-ayahnya, datuk, nenek-moyangnya mengucapkan “La ilaha illalLah”. Sedangkan yang lain, seperti shalat, puasa, zakat, haji dan lainnya, mereka tidak tahu lagi. Kadang-kadang nama sebagai orang Islam masih dipakai seperti Rashidov, Rahmanovzky, Ibrahimov, Karimov dan lain-lain, padahal mereka sudah jauh dari Islam, seperti terdapatnya nama Luqman, Alimin, Aidit dan lain-lain dalam kalangan komunis Indonesia.

Baik penghapusan dan pengusiran kaum muslimin dari Andalusia pada abad kelima belas (1492) atau penghapusan Islam di negeri-negeri komunis zaman sekarang, adalah semuanya Itu persaingan yang sengit. Kaum muslimin yang sadar akan agamanya, yang setia memegang kepribadiannya masih terus berjuang sekarang ini di Turkishtan. Mana yang tidak melihat lagi kemungkinan kemenangan telah hijrah dengan teratur ke negeri lain. Mereka terus memelihara pusaka aqidahnya di tempat kediaman yang baru.

Tetapi perjuangan paling hebat di samping kedua macam perjuangan itu ialah penyerbuan kepada dunia Islam bukan dengan perjuangan 
senjata meriam dan tank, melainkan dengan senjata kebudayaan. Dan ini dilakukan di negeri-negeri Islam yang dijajah oleh bangsa-bangsa pemeluk agama Kristen dari dunia barat.

Setelah negara-negara Islam itu merdeka, penyerangan dari segi kebudayaan masih diteruskan. Bahkan terkadang pada beberapa negeri, pemerintahan yang menggantikan bekas penjajah itu sendiri, cara berpikirnya pun sudah jauh dari kepribadian sebagai muslim, malahan menyalin kepribadian guru yang mereka gantikan, sehingga setelah negeri itu merdeka, kembali kepada Islam adalah dipandang satu bahaya besar, dan mengikut selangkah demi selangkah kepada cara-cara Barat, lalu dinamai modernisasi, jauh lebih hebat, dan lebih kelewatan daripada masa dijajah itu sendiri.

Coba perhatikan betapa hebat bekas penyerangan kebudayaan itu. Kita ambil saja satu misal: Di Turki ketika Kemal Attaturk dengan keras menghapuskan huruf Arab dan menggantinya dengan huruf latin, rakyat Turki melawan dengan sisa tenaga yang ada pada mereka. Namun lambat laun huruf Arab itu terdesak juga dengan kekerasan.

Dan di negeri kita sendiri, di seluruh Indonesia, dengan berangsur huruf Arab yang telah kita tukar namanya menjadi huruf Melayu atau huruf Jawi itu dihabiskan dipunahkan, sehingga angkatan muda sekarang sudah tidak mengerti lagi huruf-huruf tersebut. Padahal dengan huruf itulah kita bangsa Indonesia yang 90% beragama Islam mengembangkan kebudayaan kita beratus tahun lamanya.

Jika berpikir dengan hening, haruslah kita akui bahwa pertukaran huruf itu saja amat besar pengaruhnya dalam mombelokkan cara kita berpikir dari rumpun agama kepada rumpun peradaban lain. Dan kelanjutannya ialah bahwa hilangnya huruf Arab pun membawa hilangnya perhatian orang kepada Al Qur’an. Malahan lama kelamaan sudah ada yang berani mengatakan: Al Qur’an itu bukan bahasa kita! Itu adalah bahasa asing!

Dan kelanjutannya lagi memang bertemulah apa yang telah dibayangkan oleh Nabi Muhammad SAW di dalam sabdanya yang teIah kita salinkan di atas.

Sudah bahagian yang terbesar dari penduduk Indonesia ini mengakui dirinya beragama Islam, namun dia tidak mengerti lagi apa itu Islam. Apa itu shalat, puasa, zakat, haji dan lain sebagainya. Malah ada yang gugup di muka penghulu tukang catat nikah seketika akan dinikahkan, disuruh mengucapkan dua kalimat syahadat, dan ada pemuka bangsa Indonesia yang tidak lurus mengucapkan “Assalamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh!”
 Dan banyak yang mengakui dirinya Islam, tetapi segala gerak langkah hidupnya, sangatlah jauh daripada yang diajarkan oleh Islam. Dasar dalam jiwanya masih tetap Hindu, Mahabharata dan Ramayana, atau dia berpikir dalam Islam secara Kristen!

Sungguhlah hebat yang kita hadapi sebagai juru dakwah! Tetapi Islam itu sendirilah yang mengajar kita supaya jangan berputus-asa. Kita disuruh mempersiapkan diri memasuki medan perang kebudayaan ini, dengan perlengkapan Iman dan persiapan Ilmu.

Karena hadits yang kita salin di atas itu masih ada ujungnya! Seorang di antara penghubung sanad hadits yang dirawikan oleh Huzaifah yang tersebut di atas bernama Shilat Bin Zufar Al-‘Absy bertanya kepada Huzaifah: “Apa gunanya La ilaha illalLah lagi, kalau orang tidak mengerti lagi apa itu shalat, apa puasa, apa haji dan apa zakat” Huzaifah menjawab: “Selama Laa ilaaha illAllah masih terdengar, harapan masih ada bahwa mereka akan terlepas dari neraka!”. Diucapkannya dengan semangat oleh Huzaifah.

Artinya kalau Laa ilaaha illAllah masih ada, tandanya dasar Islam belum hilang.  Dari sana kita mulai dan kita tidak boleh putus-asa!  Medan Tempat Berjuang Masih Luas!!


[1]  Tulisan dalam buku  Buku Dari Hati ke Hati tentang Agama, Sosial-Budaya Politik. Kumpulan tulisan Buya Hamka di rubrik Hati ke Hati di Majalah Panji Masyarakat 1967 – 1981. Sumber rujukan daring di sini. Editor: Ads[BPP].

[2] Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunannya Kitab Al-Fitan (Huru-hara) Bab Dzahabu-l Qur’an wa-l ‘ilmi (Lenyapnya Alquran dan Ilmu) No. 4049; Mustadrak ‘ala-s Shalihin oleh Al Hakim Kitab Fitan wa-l Malahim (Huru-hara dan Peristiwa Besar Akhir Zaman) Bab Yadrusu-l Islam kamaa Yadrusu Wasyu-ts-Tsaubi (Terhapusnya Islam sebagaimana Terhapusnya Ragi kain) No. 3497

Berbagi Informasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *