Kado Terindah dari Perjalanan Agung

 

BANDUNG – Peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan peristiwa besar dalam agama Islam. Dari peristiwa inilah asal mulanya diwajibkan sholat 5 waktu bagi umat Islam. Departemen Syiar dan Pelayanan Kamil Pascasarjana ITB peringati Isra’ Mi’raj dengan mengadakan kajian bersama Ustad Djalal As-Syatibi yang merupakan pengisi ceramah di MQ TV dan beberapa stasiun radio. Kegiatan ini bertema “Kado Terindah dari Perjalanan Agung” dan berlangsung di Gedung Serba Guna (GSG) Masjid Salman ITB pada hari Selasa tanggal 25 April 2017 dari pukul 16.00 – 17.30 WIB. Acara berlangsung dengan lancar dan dihadiri sekitar 50 peserta dari kalangan mahasiswa dan masyarakat umum. Pemateri menjelaskan peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW dan apa yang dialami beliau dalam perjalanannya. Acara ini bertujuan untuk meningkatkan tsaqofah keilmuan peserta, meningkatkan keimanan dari pelbagai pelajaran yang bisa diambil dari momen Isra’ Mi’raj, demikian diungkapkan oleh Nanda Hanifa Maulida, mahasiswa Pascasarjana Teknik Panas Bumi ITB, saat diwawancara. Ketua Umum Kamil Pascasarjana juga mengungkapkan bahwa banyak hikmah yang dapat diambil dari peristiwa Isra’ Mi’raj ini, diantaranya tentang hakikat memaknai perjalanan dan bagaimana interaksi kita dengan sholat. Hal-hal ini sudah di contohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Pentingnya kita tahu tentang sirah nabawiyah akan menimbulkan rasa cinta kita terhadap Rasulullah. Dan ini perlu kita pupuk terus dalam aktifitas sehari-hari. Tutup Faruq. (Damara/Mutiara/Dadang Kamil ITB)

Berbagi Informasi

One thought on “Kado Terindah dari Perjalanan Agung

  • June 28, 2018 at 5:15 am
    Permalink

    mnrt saya peristiwa Isra’ Mi’raj itu memang benar2 terjadi, tapi karena teknologi manusia belum menjangkau, kejadian itu menjadi hal yang tidak terbayangkan.

    Coba kembali ke 1000 tahun yang lalu, dan katakan bahwa manusia bisa berbicara dengan manusia lain dimanapun, secara langsung, tanpa harus bertatap muka. tentu mereka heran, padahal kita biasa menyebutnya telepon. Atau mundur 10 tahun aja, apa kita menyangka bisa menelepon tanpa menggunakan pulsa reguler?

    So menurut saya, kejadian dalam Alquran sebenarnya memang benar terjadi, tapi karena teknologi dan pengetahuan manusia belum bisa mencapai itu, yang mendengar hanya bisa percaya sebagai dogma atau tidak percaya.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *