Seruan Ramadan 1438: Wujudkan Kolektivitas dalam Aksentuasi Keadaban

Siaran Pers Puskornas Forsi Himmpas No. 02.A.30.05.17


Selamat Menggembirakan Ibadah Ramadan 1438 H: Wujudkan Kolektivitas dalam Aksentuasi Keadaban


Kecenderungan perilaku materialistis-hedonis menjadi titik mula kompleksitas persoalan sosial modern. Puncaknya adalah tindakan-tindakan negatif yang membudaya dan kian lama kian membesar laksana snowball. Keserakahan, korupsi, tindak kekerasan, maupun konflik horizontal antar kepentingan adalah kusut masai pakaian luhur kebangsaan yang masih sulit untuk diluruskan. Beragam kutukan yang usai tersiar, tak kunjung menjadi solusi konkrit dan terkesan sekedar luapan emosi dari piciknya ingatan -yang boleh jadi esok atau lusa akan terlupakan-.

Perbaikan individu adalah kunci dari perbaikan suatu entitas. Maka beruntunglah bangsa Indonesia! Bangsa yang telah Allah takdirkan terlahir pada hari Jumat, 9 Ramadan 1364 H (17 Agustus 1945), untuk kesekian kalinya dijumpakan (kembali) dengan keromantisan perjuangan dalam kasih sayang-Nya. Kemenangan perjuangan bangsa di bulan Ramadan silam, telah ditempuh dengan cucuran peluh, darah, dan air mata. Maka, tuntutan berat terhadap pembangunan Indonesia di era modern, bukanlah hal yang istimewa. Ini adalah jalan keniscayaan.

Keberhasilan dalam menempuh pendidikan di madrasah Ramadan 1438 H kelak, semoga menjadi nafas baru penyegar peradaban. Ramadan merupakan sarana perbaikan diri yang selanjutnya secara kolektif membentuk keluhuran budi pekerti dalam berbangsa dan bernegara. Rasulullah dalam Ash-shahihain, bersabda bahwa “Ash-shiyamu junnah”. Puasa itu perisai (dari sisi buruk jiwa). Maknanya, aplikasi puasa bukan sekedar ritual menahan lapar dan haus belaka, namun membiasakan diri untuk terhindar dari perkataan keji (rafs), luapan kemarahan (shakhb), juga beragam kedustaan dan turunannya (qauluz-zuur wa ‘amala bihi). Tak hanya itu, Ramadan merupakan training ground dalam pendewasaan spritual. Barangsiapa berpuasa dari fajar hingga tengelam matahari Ramadan (man shaama Ramadana) serta mendirikan ibadah salat di kala malamnya (man qaama Ramadana). dengan penuh keyakinan serta pengharapan atas keridhaan-Nya semata (imaanan wahtisaban) maka Allah akan ampunkan seluruh kesalahannya yang lampau. Hingga, Allah akan limpahkan kebaikan-kebaikan untuknya. Allah pun menegaskan bahwa dalam Ramadan tersimpan rahasia tentang suatu malam, yang bila dilakukan kebaikan semasa itu, maka kebaikan tersebut lebih mulia daripada seribu bulan. “Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan” (Qs Al Qadr ayat 3).

Hal terpenting lain dari makna Ramadan adalah terwujudnya keseimbangan sosial melalui amal-amal kemanusiaan. Fazlur Rahman (1980) dalam Major Themes of the Qur’an menyebutkan bahwa Islam adalah agama antrophocentric, bukan theocentric. Ajaran Islam menekankan terwujudnya perikemanusiaan di alam semesta, sehingga tak cukup jika disempitkan sebatas ritus-ketuhanan pada tiap individu saja. Beberapa contoh mendasar dari ihwal tersebut adalah dialog di neraka Saqar (Qs Al Mudatstsir ayat 42-44). Ditanyalah para penghuni neraka, ”Apakah yang memasukkan kalian ke dalam Saqar?” Mereka menjawab, ”Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan salat dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin.” Amal individu dan amal sosial ditekankan secara beriringan! Pada ayat yang lain dijelaskan tentang terminologi pendusta agama (mukadzib bid-diin). Istilah ini disematkan Allah kepada mereka yang telah beribadah salat (mushallin) namun tidak peduli terhadap anak yatim dan orang-orang miskin (Qs Al Ma’un ayat 1-3). Secara umum, bahkan terdapat kaidah yurisprudensi Islam yang menyatakan: “Al-‘amal al muta’addiy afdhal min al-‘amal al-qashir”. Kaidah yang dicatat Imam As-Suyuthi dalam Al-Asybah wa-n Nadza-ir tersebut berarti “Ibadah yang memberi manfaat secara sosial pada khalayak (al-muta’addiyah), lebih utama dibandingkan ibadah yang memberi manfaat pada diri sendiri (al-qashirah)”. Hal ini dipahami, ketika terjadi kondisi dilematis (ta’arudh), dimana kedua ibadah (individu dan sosial) saling berbenturan satu sama lain, di satu waktu, dan tanpa adanya ketentuan hukum “fardhu ‘ain” pada ibadah individu (al-qashirah) tadi, maka amal sosial (al-muta’addiyah) lebih utama (afdhal). Dengan demikian, dapat diketahui bahwa salah satu inti ajaran Islam adalah penyelarasan makna dalam kehidupan sosial agar terbentuk kesatuan antarentitas yang berbhinneka kehendaknya.

Pada momentum Ramadan ini, Pusat Komunikasi Nasional (Puskornas) Forum Silaturahmi Himpunan Mahasiswa Muslim Pascasarjana (Forsi Himmpas) Indonesia mengucapkan “Selamat Menggembirakan Ibadah Ramadan 1438 H. Aksentuasi (penitikberatan) pada keadaban adalah katalisator perbaikan, demi terwujudnya negeri yang gemah ripah loh jinawi dalam naungan keampunan sang Pencipta (Baldatun-thayyibatun wa rabbun ghafuur).

Waffaqanallah limaa yuhibbuhu wa yardha.
(Semoga limpahan taufiq dari Allah menyertai kita, untuk mengerjakan amal yang dicintai dan diridai-Nya)

Bogor, 4 Ramadan 1438 H
Ketua Forsi Himmpas Indonesia

Arief Mulyawan, S.Pi.

Berbagi Informasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *