Amanah

1. Definisi amanah

Amanah merupakan hal yang tidak pernah lepas dari kehidupan sehari-hari karena amanah memiliki ruang lingkup yang luas. Secara istilah, ada sebagian orang yang mengartikan kata amanah secara sempit yaitu menjaga barang titipan dan mengembalikannya dalam bentuk semula. Padahal sebenarnya hakikat amanah itu jauh lebih luas.

Amanah menurut terminologi Islam adalah setiap yang dibebankan kepada manusia dari Allah Ta’ala seperti kewajiban-kewajiban agama, atau dari manusia seperti titipan harta.  Amanah dari Allah terdapat dalam Al Qur’an sebagai berikut “Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,” (QS. Al-Ahzab: 72).

Syaikh Muhammad asy-Syinqithi rahimahullah memaknai ‘amanah’ dalam ayat di atas yaitu beban-beban agama yang diiringi dengan pahala dan hukuman. Hal itu ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung, tetapi semuanya enggan memikulnya, sedangkan manusia menyatakan siap menerimanya. Maka manusia mana saja yang tidak menjaga amanah, dia amat zalim dan amat bodoh, yaitu banyak kezhaliman dan kebodohan.

Luasnya ruang lingkup amanah disebutkan oleh Sayyid Sabiq dalam bukunya Islamuna: “Amanah adalah segala sesuatu yang wajib dipelihara dan ditunaikan kepada orang yang berhak menerimanya. Amanah adalah kata yang pengertiannya luas mencakup segala hubungan. Konsisten dalam keimanan serta merawayatnya dengan faktor-faktor yang menyebabkan berkembang dan kekalnya adalah amanah, memurnikan ibadah kepada Allah adalah amanah, berinteraksi secara baik dengan perorangan dan kelompok adalah amanah; dan memberikan setiap hak kepada pemiliknya adalah amanah.”

2. Keutamaan amanah

Amanah memiliki beberapa keutamaan, diantaranya yaitu:

Pertama, jalan menuju kesuksesan.

Allah Ta’ala menyebutkan salah satu golongan yang akan memperoleh kesuksesan/keberuntungan, “Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat   dan janjinya.” (QS. Al-Mu’minun: 8)

Kedua, sifat hamba-hamba mulia.

Amanah merupakan sifat para Nabi dan rasul, di dalam Al-Qur’an Allah Ta’ala menceritakan hal ini.Nabi Hud ‘alaihis salam berkata, “Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikitpun, tetapi aku ini adalah utusan dari Tuhan semesta alam. Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan Aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu” (QS. Al-A‘raf: 67-68)

Ketiga, tanda keimanan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada iman bagi orang yang tidak amanah dan tidak ada agama bagi orang yang tidak memmegang janji.” (HR. Ahmad)

Keempat, kekayaan hakiki yang menandingi dunia dan seisinya.

“Empat hal jika dia ada dalam dirimu, engkau tidak merugi walupun kehilangan dunia: Menjaga amanah, berkata dengan jujur, berakhlak yang mulia dan menjaga makanan (dari yang haram).” (HR. Ahmad)

Kelima, salah satu kompentensi terpenting bagi seorang ‘amil (pekerja).

Hal ini seperti dikisahkan di dalam Al-Qur’an ketika salah seorang putri Nabi Syu’aib ‘alaihis salam merekomendasikan Nabi Musa ‘alaihis salam agar diangkat menjadi pekerja, “Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: ‘Wahai ayahku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.’“. (QS. 28:26)

3. Ruang lingkup amanah

Pertama, amanah fitrah (iman kepada Allah).

Iman kepada Allah Ta’ala adalah amanah fitrah yang diberikan Allah Ta’ala kepada manusia sejak lahir. Allah Ta’ala berfirman, “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi’. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)’,” (QS. 7:172)

Kedua, amanah ibadah.

Ibadah hanya kepada Allah Ta’ala merupakan salah satu konsekwensi iman dan merupakan tujuan utama manusia diciptakan. Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta`ala, “Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzaariyaat : 56)

Ketiga, amanah dakwah dan jihad.

Setiap muslim harus menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar. Allah Ta’ala berfirman, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imran: 104)

Keempat, amanah dalam harta.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Satu dinar yang engkau belanjakan di jalan Allah subhanahu wa ta’ala, satu dinar yang engkau keluarkan untuk membebaskan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada seorang miskin dan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu, maka yang paling besar pahalanya dari semua nafkah tersebut adalah satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu.” (HR. Muslim)

Begitu juga harta yang ada di dalam kendali seseorang dalam sebuah yayasan, organisasi atau negara yang bukan milik pribadinya, Berkaitan dengan ini Ibnu Taimiyah berkata di dalam bukunya As-Siyasah Asy-Syar`iyyah: “…Bagi setiap penguasa dan wakilnya dalam pemberian hendaknya memberikan setiap hak kepada pemiliknya, dan para pengurus harta itu tidak boleh membagikannya menurut keinginannya sendiri seperti pemilik harta membagikan hartanya, karena mereka adalah orang-orang yang diberikan amanah dan para wakil bukan pemilik.”

Kelima, amanah menjaga keselamatan orang lain dan menjaga kehormatannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang muslim (sejati) adalah apabila orang-orang muslim disekitarnya merasa aman dari lisan dan tangannya.” (Bukhari dan Muslim)

Keenam, amanah dalam menjaga rahasia.

Apabila seseorang menyampaikan sesuatu yang penting dan rahasia kepada kita, itulah amanah yang harus dijaga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang membicarakan sesuatu kepada orang lain (sambil) menoleh ke kiri dan ke kanan (karena yang dibicarakan itu rahasia) maka itulah amanah (yang harus dijaga). (HR. Abu Dawud)

Ketujuh, amanah kekuasaan.

Kekuasaan adalah amanah. Tidak boleh dimanfaatkan untuk meraup keuntungan bagi pribadi atau keluarga kecuali sebatas yang menjadi haknya. Dalam hal ini diceritakan dalam sebuah hadits, “Jika amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari kiamat.” Sahabat bertanya: “Disia-siakan yang bagaimana?”, Rasulullah bersabda: “Jika urusan telah diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah hari kiamat.” (HR. Bukhari)

Kedelapan, amanah ilmu pengetahuan.

Seorang berilmu wajib menyebarluaskan ilmunya kepada masyarakat dan menerangi hati mereka. Orang yang menyembunyikan ilmunya berarti telah berbuat khianat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengancam orang yang bersikap demikian. “Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu lalu ia menyembunyikannya, maka Allah akan mengekangnya dengan kekangan api neraka pada hari kiamat nanti.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Kesembilan, amanah diri sendiri.

Diri kita sendiri adalah amanah yang harus dijaga, yakni dengan tidak melakukan sesuatu kecuali yang paling baik dan paling bermanfaat bagi diri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dari kesempurnaan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi, Malik dan Ahmad).

Semua nikmat yang Allah berikan kepada kita harus dijaga dan dimanfaatkan dengan baik, seperti umur, kesehatan, dan bahkan seluruh organ yang ada pada tubuh adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan dihadapan Allah Ta’ala kelak. Sebagaimana yang dijelaskan di dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra: 36)

Kesepuluh, amanah keluarga.

Suami istri dalam kehidupan berkeluarga memiliki amanah dan tanggung jawab yang diembannya masing-masing. Mereka akan ditanya tentang amanah dan tanggung jawabnya tersebut. Hal ini diantaranya disebutkan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini,

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggung jawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas keluarganya. Seorang isteri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan tanggung jawabnya tersebut.” (HR. Bukhari No. 844)

Kesebelas, amanah kerja profesional.

Islam membimbing umatnya untuk selalu berbuat ihsan (melaksanakan yang terbaik) dan itqan (sempurna) dalam beramal. Hadits-hadits yang berkaitan pula dengan hal ini telah disebutkan sebelumnya, lihat hadits riwayat Muslim di point ketujuh tentang amanah kekuasaan, serta hadits riwayat Bukhari di point kesepuluh tentang amanah keluarga. Hadits-hadits tersebut menyebutkan tentang sikap amanah yang harus dijaga oleh seorang pekerja.

4. Pentingnya menjaga amanah

Amanah adalah sebuah kewajiban yang harus ditunaikan, sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan juga janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui,” (Q.S al-Anfaal : 27).

Pada ayat di atas menunjukkan bahwa eksistensi kewajiban menjaga amanah sangat tinggi, sehingga terdapat kerugian ataupun konsekuensi yang berat jika amanah tersebut ditinggalkan salah satunya termasuk pada ciri-ciri orang munafik. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menandakan orang-orang munafik yakni apabila berkata, dia berdusta, apabila berjanji dia mengingkari dan apabila diberi amanah dia khianat. Sedang Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat. Allah Ta’ala berfirman, ”Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.” (QS. Al-Anfal: 58)

Selain itu khianat adalah salah satu jalan menuju neraka dan nantinya akan dipermalukan di akhirat kelak.

Allah Ta’ala berfirman,

“Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): ‘Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)’”. (QS. At-Tahrim:10)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,

“Setiap penghianatan akan mendapat bendera di hari kiamat, disebutkan ini penghianatan si fulan dan ini penghianatan sifulan.” (HR. Bukhari Muslim)

Maka, sudahkah kita menjaga amanah yang kita miliki sekarang?

Wallahul Musta’an….

Dirangkum dari: www.tarbawiyah.com dan berbagai sumber

Berbagi Informasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *