Memilih Calon Pemimpin

Mari Kita Baca (lagi) Siroh Rasulullah dan Sahabatnya. Musakaful fikr!!

Saat Rasulullah SAW wafat (632M) para sahabat berkumpul di suatu tempat yang bernama Saqifah yaitu suatu tempat yang berada di depan mesjid Nabawi. Beliau sadar bahwa memilih seorang pemimpin untuk umat Islam itu sangatlah penting.

Dalam beberapa hadits menerangkan bahwa jika ada 3 orang saja dalam perjalanan jauh, maka angkatlah salah satu seorang dari mereka sebagai pemimpin.

Umar Bin Khattab dengan pesan moralnya bahwa Islam tidak akan tegak tanpa jama’ah, jama’ah itu tidak akan ada apa-apanya tanpa pemimpin, sedangkan pemimpin tidak akan dipatuhi tanpa adanya bai’at.

Pidato Umar waktu itu mengatakan bahwa dirinya bukanlah orang yang hebat, beliau bukanlah orang yang yang terbaik. Karena para sahabat ini tidaklah berambisius untuk menjadi seorang penguasa.

Maka pada waktu itu Umar mengatakan siapa diantara kita yang pertama masuk Islam, yang pertama menyertai Nabi hijrah, yang bersama Nabi di jabal Tsur kemudian siapa yang pertamakali mengimami sholat saat Rosul wafat, semua tertuju kepada Abu Bakar Shiddiq.

Maka terpilihlah Abu Bakar Shiddiq yang memegang kekhalifahan pada saat itu.

Jika dalam memilih pemimpin itu dengan cara baik maka kemenangan itu adalah berkah dan kuncinya adalah kejujuran.

Sosok Abu Bakar ini berhasil melanjutkan perjuangan Rosulullah saw dalam membangun strategi visioner.

Ada tiga usaha besar yang dilakukan oleh Abu Bakar Shiddiq
(1) Menyelamatkan naskah Al-Qur’an.
(2) Memberantas kemurtadan.
Saat itu ada sosok yang menjadi penggerak kemurtadan yang bernama Musailamah Al Kadzdzab yang berasal dari propinsi Yamamah. Setelah Musailamah terbunuh, maka segera dibangunlah ketauhidan dan ukhuwwah Islamiyyah.
(3) Menggerakkan semangat untuk berzakat.
(4) Ekspansi wilayah ke Romawi dan Persia

Saat itu banyak rakyat yang berharta tetapi tidak mau mengeluarkan zakat. Seperti yang digambarkan dalam (QS. Al-Balad) dan gambaran Kota Mekkah yang ideal seperti digambarkan dalam (QS. Al-Quraisy), yaitu kota yang terbebas dari rasa lapar dan kemiskinan.

Sehingga pemimpin yang ideal adalah pemimpin mampu membebaskan rakyatnya dari segala ketakutan.

Abu Bakar menjadi khalifah tidak sampai 5 tahun namun bisa membebaskan rakyat dari kemurtadan dan kemiskinan. Beberapa lama sebelum menjelang kematiannya, Abu Bakar mengambil inisiatif untuk menggantikan kepemimpinannya agar tidak berpecah-belah. Wasiat dr Abu Bakar yaitu estafet kepemimpinan diberikan kpd Umar Bin Khattab. Jadilah Umar sebagai Khalifah setelah Abu Bakar.

Umar Bin Khattab berjuang mengurus administrasi negara dan memimpin agresi militer. Namun semua itu mengundang kecemburuan di kalangan Yahudi, pada akhirnya ada intelejen Yahudi berhasil masuk ke rumah Umar Bin Khattab dengan menyamar sebagai pembantu rumah, akhirnya Umar pun terbunuh.

Usman Bin Affan pun terbunuh oleh para pemberontak dari Mesir. Dan Ali pun terbunuh karena ada kesalah-pahaman. Karena dari isu kepemimpinan inilah jadi timbul pertengkaran.

Konsep kepemimpinan Islam adalah:
(1) Bahwa penguasa yang mutlak adalah hanya Allah (QS. Ali-Imran: 26)
(2) Kepemimpinan itu adalah amanah.

Sehingga karena amanah, maka harus menyadari dan memposisikan diri bahwa amanah itu sewaktu-waktu akan hilang atau berpindah tangan. Amanah itu akan hancur jika diserahkan kepada yang bukan ahlinya.

Rasulullah Saw memberikan panduan kepada kita bahwa
(1) Sebaik-baik pemimpin adalah kamu mencintainya dan mereka pun mencintaimu.
(2) Dan seburuk-buruk pemimpin adalah kamu membencinya dan mereka pun membencimu, kamu melaknat mereka dan mereka pun melaknatmu

Inti dari pesan Rosulullah adalah janganlah ukhuwwah menjadi rusak karena masalah kepemimpinan.

Gara-gara kepemimpinan timbul perpecahan maka terbentuklah Syi’ah dan Suni kemudian timbul syari’at baru dan dari kepemimpinan juga hadirnya hadits-hadits yang palsu.

Rosulullah memimpin umat Islam selama tiga belas tahun membina aqidah dan meluruskan pandangan jahiliyyah pada saat itu janganlah membangga-banggakan harta karena harta tidak memberikan kemuliaan dan bukanlah segala-galanya. (QS At-Takatsur), (QS. Al-Lahab), (QS. Al-Ma’un), (QS. Al-Humazah), (QS. Adh-Dhuha)

Masyarakat yang dibangun oleh Rosulullah pada saat itu adalah:
(1) Masyarakat yang demam mesjid, hatinya selalu terpaut dengan mesjid.
(2) Memilih pemimpin untuk dijadikan imam. Makmum harus patuh kepada imam.

Jika imam salah dalam bacaan, makmum harus meluruskan bacaan imam. Maka dalam hidup bermasyarakat haruslah seperti sholat berjama’ah, patuh kepada pemimpin namun pemimpin harus diganti jika batal dalam sholatnya.

Dari 2 poin pada masing-masing critical value tentang konsep kepemimpinan, panduan yang Rasul ajarkan dan capaian tersebut, menjadi modal sebelum kita memilih seorang pemimpin diantara kita.

Wallaahu A’lam bish shawwaab

Disarikan dari Kajian Umum oleh Prof.Dr.KH.Miftah Faridl

Berbagi Informasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *